KELAS 8 G
1) 71,4 2)78,6 3)68,6 4)78,6 5)85,7 6) 84,3 7)80 8)74,3 9) 82,9 10)77,1 11) 85,7 12)80 13) 82,9 14) 74,3 15) 80 16) 84,3 17) 82,9 18) 81,4 19) 72,9 20) 78,6 21) 77,1 22) 82,9 23) 71,4 24) 74,3 25) 70 26) 80 27) 82,9 28) 81,4
KELAS 8 H
1) 74,3 2) 74,3 3) 80 4)77,1 5)71,4 6)71,4 7)74,3 8)84,3 9)81,4 10) 78,6
11)82,9 12)70 13)82,9 14)77,1 15)80 16)74,3 17)64,3 18)77,1 19)71,4 20)75,7
21)77,1 22)65,7 23)80 24)72,9 25)78,6 26)85,7 27)81,4 28)70
KELAS 8 I
1)64,5 2)82,9 3)81,4 4)71,4 5)74,3 6)78,6 7)72,9 8)74,3 9)64,3 10)81,4
11)80 12)75,7 13)74,3 14)75,7 15)75,7 16)81,4 17)74,3 18)75,7 19)75,7
20)75,7 21)71,4 22)80 23)75,7 24) 80 25)85,7 26)87,1
READ MORE - NILAI UAS SEMESTER 1 KELAS 8 G, H, dan I
Minggu, 11 Desember 2011
Selasa, 22 November 2011
Kisi-kisi UAS kls 8 smt 1 th 2011/2012
1. menuliskan pokok-pokok laporan dengan kalimat singkat menganalisis pola urutan waktu atau ruang dalam laporan
2. menentukan unsur-unsur pokok dalam menanggapi laporan perjalanan (5W+1H).
3. memberikan tanggapan, kritik, saran terhadap laporan perjalanan
4. menentukan langkah-langkah etika berwawancara
5. mampu menentukan topik wawancara
6. membuat daftar pertanyaan untuk wawancara sesuai dg tema
7. mencatat pokok-pokok hasil wawancara
8. mendeskripsikan arah ke tempat yang dituju
9. menyimpulkan isi teks bacaan
10. menentukan sistematika surat dinas
11. menulis surat dinas dengan bahasa baku
12. menulis petunjuk dengan bahasa yang efektif
13. menentukan unsur-unsur pementasan drama (tema, penokohan, setting/latar, alur, amanat/pesan, sudut pandang mengembangkan kerangka cerita menjadi teks drama sederhana
READ MORE - Kisi-kisi UAS kls 8 smt 1 th 2011/2012
KISI-KISI UAS KLS 8 SMT 1 TH 2011
menuliskan pokok-pokok laporan dengan kalimat singkat
menganalisis pola urutan waktu atau ruang dalam laporan
menentukan unsur-unsur pokok dalam menanggapi laporan perjalanan (5W+1H).
memberikan tanggapan, kritik, saran terhadap laporan perjalanan
menentukan langkah-langkah etika berwawancara
mampu menentukan topik wawancara
membuat daftar pertanyaan untuk wawancara sesuai dg tema
mencatat pokok-pokok hasil wawancara
mendeskripsikan arah ke tempat yang dituju
menyimpulkan isi teks bacaan
menentukan sistematika surat dinas
menulis surat dinas dengan bahasa baku
menulis petunjuk dengan bahasa yang efektif
menentukan unsur-unsur pementasan drama (tema, penokohan, setting/latar, alur, amanat/pesan, sudut pandang
mengembangkan kerangka cerita menjadi teks drama sederhana
READ MORE - KISI-KISI UAS KLS 8 SMT 1 TH 2011
Jumat, 13 Mei 2011
CERPEN "IBU PERGI KE LAUT"
IBU PERGI KE LAUT
Karya: Eddie Hara
Ayah bilang ibu pergi ke laut. Waktu aku tanya kenapa ibu tidak pulang, ayah menjawab, ibu mungkin tidak pulang. Tentu saja kemudian aku bertanya apakah ibu tidak kangen padaku? Dan ayah menjawab, tentu saja ibu kangen dan tetap sayang padaku. Tapi kenapa ia tidak pulang? Apakah ada seorang anak sepertiku yang ada di laut sehingga ibu tidak mau pulang ke rumah ini? Sepasang mata ayah kemudian berair. Ibu seperti juga ayah, sering sekali pergi. Mereka bisa pergi berhari-hari. Terakhir yang kuingat, malam sebelum ibu pergi, aku melihat ia mengepak barang di dalam tas besar. Enak jadi orang yang sudah besar, pakaiannya banyak. Pagi sebelum ia pergi, ia sempat mencium pipiku, lalu seperti biasanya, ia mencium pipi ayah, kemudian ayah mengantar ibu. Enak jadi orang yang sudah besar, bisa pergi ke mana-mana dan tidak harus terus berada di rumah. Sewaktu ibu mengepak barang, seperti biasanya aku bertanya apakah ia akan pergi ke Jakarta seperti biasanya? Ibu menggeleng. Apakah ke Surabaya? Apakah akan ke Medan?
Apakah akan ke Bali? Ibu juga menggelengkan kepala. Lalu aku bertanya, terus pergi ke mana? Ibu bilang pergi agak jauh, ibu mau pergi ke Aceh. Aku bingung. Di manakah Aceh itu? Lalu ibu menjelaskan bahwa kalau pergi ke sana kita harus menyeberangi laut. Ibu akan naik kapal? Ibu kembali menggelengkan kepala. Ia menjawab akan naik pesawat terbang. Wah, kenapa tidak naik kapal? Kan enak, bisa melihat banyak air. Ibu hanya tersenyum dan mencium pipiku. Ada saatnya aku tidak suka dicium, apalagi jika ciuman itu meninggalkan rasa panas di pipi. Kenapa banyak orang yang mencium pipiku, tapi terasa sangat panas. Tapi lama ibu tidak juga pulang, setiapkali aku bertanya di mana ibu, ayah menjawab, ibu pergi ke laut. Enak jadi orang yang sudah besar, setelah pergi ke suatu tempat bias langsung pergi ke tempat lain. Setelah pergi ke Aceh, bisa pergi ke laut.
Semua orang tiba-tiba terlihat makin sayang sama aku. Tetangga-tetanggaku,
tante-tanteku, semua terlihat semakin sayang. Nenek dan kakekku bahkan perlu tinggal
berminggu-minggu setelah ibu pergi ke laut. Bergantian mereka mengelus-elus rambut dan memelukku, apalagi ketika menonton televisi. Di televisi, aku melihat banyak bangunan yang rusak. Aku melihat air yang berlimpah banyak menghanyutkan orang dan barang. Aku senang sekali dengan air. Aku bertanya dari mana air sebanyak itu? Nenek bilang air itu datang dari laut. Lalu aku teringat ibu. Bukankah ibu ada di laut? Nenek dan kakekku lalu terdiam. Mata mereka berair. Ibu tahu aku lebih senang air daripada udara. Aku lebih senang ikan daripada burung.
Dulu ibu sempat bertanya mengapa? Aku menjawab, habis enak kalau main air. Dan ikanikan itu terlihat lebih segar daripada burung. Lagipula, bukankah burung bisa terjatuh ketika terbang? Sedangkan ikan tidak mungkin jatuh. Aku pernah beberapa kali jatuh. Dan jatuh itu sakit.
218 Ibu pintar berenang. Aku sering diajaknya ke kolam renang. Di kolam renang ibu bisa
seperti seekor ikan yang besar. Ia berenang ke sana ke mari. Sering pula aku menumpang di punggungnya. Dan aku tahu alangkah enaknya menjadi ikan. Aku ingin cepat bisa berenang. Aku ingin seperti ibuku. Aku ingin seperti ikan.
Aku pernah bertanya kepada ayah, apakah ibu di laut menjadi ikan? Ayah bilang
tidak, ibu tetap menjadi ibu. Tapi berenang terus dan hidup di air bukankah akan membuat ibu capek? Ayah bilang tidak sebab ibu orang hebat. Aku senang sekali. Ibu memang hebat. Dan di laut, tentu ibu akan seperti yang pernah diceritakannya. Ibu pernah bercerita bahwa ada ikan-ikan besar yang baik hati di laut. Ikan-ikan itu banyak menolong kapal-kapal yang akan tenggelam. Mungkin ia menjadi pemimpin ikan yang senang menolong itu. Kalau aku sudah bilang seperti itu ke ayah, ia kelihatan bangga, tapi bibirnya kelihatan gemetar dan matanya kembali berair. Ayah kembali bilang, makanya aku tidak usah menunggu ibu pulang sebab di laut ibu sedang menunaikan tugas-tugas mulia menyelamatkan kapal yang akan tenggelam. Aku mengangguk mengerti, dan ayah memelukku. Ada saatnya aku tidak suka dipeluk, apalagi jika pelukan itu membuat tubuhku terasa sakit.
Sebetulnya aku sangat rindu kepada ibu. Aku rindu cerita-ceritanya, aku rindu diajak
ke kolam renang, aku pengin dibuatkan kue-kue yang enak. Tapi kalau kemudian aku ingat bahwa ibu harus memimpin ikan-ikan yang baik hati, aku hanya bisa diam. Pasti ibu kasihan melihat kapal-kapal yang akan tenggelam. Di dalam kapal itu pasti banyak anak kecil seusiaku yang belum bisa berenang. Ya, ibu harus menyelamatkan mereka. Tapi, setidaknya aku berharap ibu akan meneleponku seperti yang dulu-dulu jika ia pergi dalam waktu yang cukup lama. Mungkin di laut tidak ada telepon. Kalu tidak ada telepon, setidaknya ibu bias menitipkan surat untukku lewat kapal-kapal yang telah diselamatkannhya. Atau janganjangan ibu terlalu sibuk. Mungkin aku yang harus mengiriminya surat terlebih dahulu. Tapi aku tidak bisa menulis surat. Lalu aku teringat Mbak Memi. Siang itu aku menunggu mbak Memi pulang dari sekolah. Ia tinggal di depan rumah kami. Ia sudah sekolah SD dan temannya banyak. Aku sudah sering bilang ke ibu bahwa aku pengin juga sekolah. Ibu selalu tersenyum jika aku bilang seperti itu. Katanya, sebentar lagi aku pasti sekolah. Ketika dari jauh aku melihat Mbak Memi pulang sekolah, aku langsung bilang ke Bi Nah kalau aku akan main dengan Mbak Memi. Mbak Memi orangnya baik. Ia sering mengajak dan menemaniku bermain. Dulu, ibu juga sering mengajak Mbak Memi ke kolam renang. Kalau ibu habis bepergian, ia juga sering memberi oleh-oleh untuk Mbak Memi. Tapi Mbak Memi terlihat bingung ketika aku bilang bahwa aku ingin dia menuliskan surat untuk ibuku. Ia bilang, kalau aku ingin menulis surat untuk ibuku, aku harus tahu alamatnya. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan alamat. Kemudian ia bertanya, di mana ibu berada? Aku bilang ibu ada di laut. Mbak Memi diam. Tak lama kemudian ia terlihat tersenyum.”Dinda, aku tahu bagaimana cara untuk menulis suratuntuk ibumu.”
219
Ia kemudian mengambil sehelai kertas, dan bertanya padaku apa yang ingin
kusampaikan pada ibuku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat rindu pada ibu, tapi aku tahu kalau ibu memiliki tugas yang berat, yaitu menyelamatkan kapal-kapal yang akan tenggelam. Mbak Memi menuliskan pesanku, ia kemudian bertanya, “Ada lagi yang lain?” aku menggelengkan kepala.
Kemudian kulihat Mbak Memi kembali bingung. Kemudian ia bertanya lagi, “Dinda,
kamu bisa tanda tangan?” Aku bingung. Aku menggelengkan kepala. “Menurut guruku, kalau kita mengirim surat, lebih baik ada tanda tangannya. Biar ibumu tahu kalau yang mengirim ini benar-benar kamu. Bukan surat yang palsu.” Aku kembali menggelengkan kepala. Entah kenapa aku merasa sedih. Enak betul kalau sudah sekolah, diajari membuat surat, diajari membuat tanda tangan.
“Aku tahu” tiba-tiba Mbak Memi terlihat senang. Lalu ia mengoleskan penanya
ke jempol tanganku dan memintaku untuk menempelkan di kertas surat yang baru saja
ditulisnya. “Dinda ini namanya cap jempol. Itu sama saja dengan tanda tangan.” Aku senang sekali. “Dinda menurutku lebih baik kamu juga memberi fotomu untuk ibumu. Mungkin ia membutuhkan fotomu kalau ia kangen sama kamu.” Aku tersentak. Dengan segera aku balik ke rumah dan mengambil beberapa lembar foto yang ada di album. Tapi, waktu aku bawa semua ke rumah Mbak Memi, ia bilang cukup satu saja. Lalu kupilih satu foto sewaktu aku digendong ayah. Bukankah ibu juga butuh foto ayah jika ia kangen?
Fotoku itu dimasukkan ke amplop dan dilem kuat oleh Mbak Memi. “Dinda, siapa
nama lengkap ibumu?” kali ini aku sangat senang. Aku hafal nama lengkapku, nama lengkap ayahku dan juga nama lengkap ibuku. Aku juga bisa menuliskan nama-nama itu. Lalu aku minta pada Mbak Memi agar aku saja yang menuliskan nama lengkap ibuku. Selesai menulis nama lengkap ibuku, aku mengembalikan amplop itu ke Mbak Memi karena ia yang harus menuliskan alamat ibuku. Selesai menuliskannya Mbak Memi memberikannya lagi ke aku sambil menunjukkan di mana aku harus menuliskan namaku sendiri. Selesai sudah. Kini Mbak Memi membacakannya untukku. “Untuk ibu Maya Sophia di laut. Dari Dinda Sophia Zaki.” Aku senang sekali. Apalagi sewaktu Mbak Memi membaca nama lengkapku. Namaku Dinda. Sophia nama ibuku. Zaki nama ayahku. Mbak Memi kemudian membungkus lagi amplop itu dengan sebuah plastik bening. Ia bilang supaya tidak basah. Aku bertanya kenapa takut basah? Bukankah akan diantar pak pos? Mbak Memi menggelengkan kepala. Ia bilang tidak mungkin lewat pak pos. aku kembali merasa sedih. Lalu lewat siapa? Mbak Memi menjawab lewat kapal-kapalan. Lewat kapal-kapalan? Kenapa begitu?
Mbak Memi lalu menjelaskan. Menurut bu gurunya, semua sungai itu mengalir ke
laut. Jadi, nanti kami akan membuat sebuah kapal dari kertas yang dilapisi plastik untuk
membewa suratku pada ibu. Aku lega. Dan tidak lama kemudian Mbak Memi sudah sibuk membuat kapal kertas yang cukup besar dari bahan kertas kalender. Ia melapisi kapalkapalan itu dengan plastik, lalu merekatkan amplop yang berisi suratku di dalamnya. Enak sekali jadi anak sekolah. Bisa membuat apa saja dan tahu banyak hal.
220 Mbak Memi mengeluarkan sepeda mininya. Ia kemudian menemui Bi Nah untuk
meminta izin pergi bersamaku naik sepeda. Dengan membawa kapal kertas yang berisi
surat, aku membonceng Mbak Memi menuju sungai. Di dekat gapura yang akan menuju rumahku, ada sungai. Sekalipun aku senang sekali melihat sungai itu, tapi aku tidak pernah main di sungai. Kali ini, aku merasa semakin senang dengan sungai kecil ini. Lewat sungai ini aku bisa berhubungan dengan ibuku.
Sebelum kapal kami luncurkan di air, Mbak Memi memintaku berdoa agar kapal itu bisa
selamat membawa suratku ke ibu. “Doanya apa ya Mbak?” “Kamu bisa Al Fatihah?”
Aku mengangguk ragu. Ibuku sering mengajari aku Al Fatihah tapi aku sering lupa.
Al Fatihah terlalu panjang. Lebih panjang dibanding doa sebelum tidur atau doa sebelum makan. Lalu aku berusaha mengingatnya. Dengan malu akhirnya aku bertanya ke Mbak Memi “Mbak sebelum iya kana`budu apa ya?”
“Malikiyau midin, Dinda” Mbak Memi kemudian mengajakku membaca al fatihah bersama-sama. Setelah selesai, kapal kami turunkan ke air. Kapal melaju dengan tenang. Aku yakin kapal itu akan sampai ke laut dan ibuku pasti senang menerimanya.
Sebelum kami pergi, aku berkata kepada Mbak Memi “Mbak, kalau ibu membalas suratku lewat apa?” Mbak Memi diam kemudian menjawab “Lewat hujan Dinda”
“Kenapa lewat hujan? “ “Kata bu guru, hujan itu berasal dari air yang menguap. Air di danau, di sungai, di laut menguap karena panas matahari. Uap itu kemudian berkumpul menjadi awan kemudian turun menjadi hujan” Aku bingung. Tapi itu tidak penting. “Lalu surat dari ibuku ikut turun bersama hujan, ya?” Mbak Memi kembali diam. “Mungkin Dinda, tapi coba kamu tanyakan pada ayahmu nanti”
Aku tersenyum lega. Aku membayangkan alangkah indahnya. Surat dari ibuku naik
ke langit, lalu ada di dalam awan dan kemudian turun bersama hujan ke rumahku. Mungkin akan tertempel di daun, mungkin akan tertempel di jendela, mungkin juga ada di pagar rumah. Sesampai di rumah Mbak Memi, sebelum aku pulang aku sempat bilang padanya, “Mbak, kalau hujannya besok turun waktu ayah sedang kerja di kantor, aku dibacakan suratnya, ya?” Mbak Memi tersenyum dan mengangguk. Aku senang sekali. Sehabis makan malam dengan ayah, tak sabar aku menceritakan apa yang telah kulakukan tadi siang bersama Mbak Memi. Ayah mendengarkanku. Dan seperti biasanya, bibirnya terlihat bergetar, dan matanya terlihat berair, sebelum kemudian memelukku erat. “Ayah, apakah ibu akan membalas suratku lewat hujan?”.
221
Ayah diam. Lalu ia mengangguk pelan. Aku lega. Aku mulai membayangkan ketika
hujan turun ada sehelai amplop terbungkus plastik bening yang hinggap di jendela. Ayah lalu mengantarkanku ke tempat tidur. Seperti biasanya ayah bertanya kepadaku, aku mau duceritai apa malam ini? Semenjak ibu pergi, aku selalu minta diceritai tentang laut. Ayah kemudian bercerita tentang sebuah kerajaan di bawah laut. Kerajaan itu indah sekali. “Ibu ada di istana itu?” ayah mengiyakan. Lalu ia melanjutkan ceritanya hingga suaranya melambat. Cerita Ayah masuk ke dalam mimpiku. Di sana aku melihat ibu sedang bercanda dengan ikan-ikan besar yang baik hati. Dan aku ikut bermain bersama mereka. Ibuku, seperti biasanya, membawaku di atas punggungnya.
Aku terjaga ketika wajahku terasa basah. Aku hanya bermimpi. Aku merasa ayahku
menciumi wajahku. Samar kudengar ia berkata, “Maya… kamu tahu aku dan Dinda tidak pernah baik-baik saja tanpa kamu…” Lalu kurasakan suara ayah beralih menjadi suara tangis. Air matanya jatuh ke wajahku. Ia mengelap wajahku dengan rasa sayang. Aku tetap terdiam tanpa membuka mata. Tempat tidurku terguncang hebat. Tangis ayah terasa semakin kencang, dan lamat pula aku mendengar”Maya, apa yang harus kukatakan pada Dinda?” Lalu kulihat lagi ibu bersama ikan-ikan sedang menyelamatkan sebuah kapal. Di kapal itu ada ayah. Pagi harinya ketika aku bangun tidur, aku kaget dan berteriak girang. Ada amplop dibungkus plastik bening di jendela kamarku. Dengan segera aku keluar rumah dan mengambil amplop itu, lalu sibuk mencari ayah, semoga ia belum berangkat kerja. Ternyata ayah masih mandi, “Ayah, cepat! Ada surat balasan dari ibu! Semalam hujan ya?” Begitu keluar dari kamar mandi ayah tersenyum. “Iya, Dinda semalam hujan. Sekarang kamu harus mandi dulu, sarapan pagi bersama ayah, lalu kita akan baca bareng-bareng surat dari ibu” Selesai memandikan dan menyuapiku, ayah membacakan surat dari ibu. Dalam surat itu, ibu bilang bahwa ia telah menerima suratku, dan ia berpesan agar tidak usah mengirim surat lagi karena ibu bisa melihatku dengan baik dari laut. Aku senang sekaligus merasa sedih. Aku senang karena ibu membalas suratku. Sedih karena ibu tidak ingin aku mengirin surat lagi. Ayah kemudian mencium pipiku. “Dinda jangan sedih. Hari ini kita akan pergi ke laut. Kamu masih boleh mengirim sekali lagi surat ke laut. Dan kita akan bawakan bunga untuk ibu. Sekarang kamu pilih dan ambil bunga di halaman untuk ibu, biar ayah yang menulis surat. Kamu ingin menulis apa sayang?” Aku melonjak girang. Aku bilang ke ayah kalau aku ingin memberitahu ibu supaya aku masih boleh mengiriminya surat, dan aku ingin bilang supaya aku cepat-cepat sekolah supaya nanti aku bisa mengirim surat sendiri. Dengan cepat aku pergi ke halaman depan, memetik sebanyak mungkin bunga untuk ibu. Aku tahu bunga-bunga yang disukai ibu. Lalu kami berdua berangkat ke laut.
222 Sesampai di laut aku senang sekali. Aku yang melempar sendiri surat yang dituliskan ayahku. Aku juga ikut ayahku menaburkan bunga-bunga yang kupilih. Setelah itu aku bermain air dengan ayah. Setelah aku cukup lelah, ayah kemudian mengajakku untuk makan ikan di warung-warung makan yang ada di pantai. “Dinda mau makan ikan apa?” Aku menggelengkan kepala. Ayah heran, kemudian ia bertanya “Kenapa, Dinda?” “Kasihan ibu kalau ikan-ikan diambil terus. Nanti ibu kehilangan banyak teman di laut.” Kulihat ayah diam. Matanya berair. Ia menangis sambil memelukku. Aku heran sekali. Ayah sekarang gampang menangis.
Kompas Minggu, 17 April 2005
READ MORE - CERPEN "IBU PERGI KE LAUT"
Senin, 09 Mei 2011
KISI-KISI UUKK BAHASA INDONESIA KELAS VII
1. Menulis puisi tentang keindahan alam dan pengalaman pribadi
2. Menulis memo untuk berbagai keperluan
3. Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari tabel/grafik
4. Menemukan unsur intrinsik dalam cerita (tema, tokoh, latar, sudut pandang, pesan, )
5. Mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung
6. Mengubah teks wawancara menjadi narasi
7. Menyusun percakapan dalam telepon
8. Tata cara bertelepon
9. Menemukan realitas kehidupan dalam cerita
10. Menyimpulkan wawancara
11. Menemukan hal pokok dalam wawancara
12. Menyampaikan keunggulan tokoh idola
13. Menyampaikan alasan mengidolakan tokoh
14. Menemukan hal yang dapat diteladani dari tokoh
15.Menaggapai pembacaan cerpen
16. Menangkap isi , pesan, puisi
17. Menemukan gagasan utama dalam paragraf
18. macam-macam paragraf (deduktif, induktif, campuran, ineratif)
19. Citraan dalam puisi.
READ MORE - KISI-KISI UUKK BAHASA INDONESIA KELAS VII
2. Menulis memo untuk berbagai keperluan
3. Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari tabel/grafik
4. Menemukan unsur intrinsik dalam cerita (tema, tokoh, latar, sudut pandang, pesan, )
5. Mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung
6. Mengubah teks wawancara menjadi narasi
7. Menyusun percakapan dalam telepon
8. Tata cara bertelepon
9. Menemukan realitas kehidupan dalam cerita
10. Menyimpulkan wawancara
11. Menemukan hal pokok dalam wawancara
12. Menyampaikan keunggulan tokoh idola
13. Menyampaikan alasan mengidolakan tokoh
14. Menemukan hal yang dapat diteladani dari tokoh
15.Menaggapai pembacaan cerpen
16. Menangkap isi , pesan, puisi
17. Menemukan gagasan utama dalam paragraf
18. macam-macam paragraf (deduktif, induktif, campuran, ineratif)
19. Citraan dalam puisi.
Selasa, 22 Maret 2011
NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII D
NILAI MIDSEMESTER 2 KELAS VII D TAHUN 2010/2011
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Adhitya Ramadhan L 70 Belum Tercapai
2 Ahmad Zufar Fikri L 94 Terlampaui
3 Alief Surya Nugraha L 88 Terlampaui
4 ArvianCandra Kusuma L 80 Terlampaui
5 Atika Ayu Indriana P 82 Terlampaui
6 Bagus Hananto Wibowo L 68 Belum Tercapai
7 Dea Fatika N P 78 Terlampaui
8 Dizza Dhiya V P 82 Terlampaui
9 Elvira Cyntia Devi P 76 Terlampaui
10 Fajar Safitri P 80 Terlampaui
11 Fajrina Hanif Hanundhiya P 84 Terlampaui
12 Faridah Rifiati S P 92 Terlampaui
13 Firdian Latifah P 90 Terlampaui
14 Fitria Handayani P 76 Terlampaui
15 Gagas Kidung Alam L 90 Terlampaui
16 Heka Siwi Pratita P 80 Terlampaui
17 Isyana Hilda Andriani P 84 Terlampaui
18 Mohammad Yudi S. L 74 Belum Tercapai
19 Rengga Pratama L 82 Terlampaui
20 Rika Tri Arviana Dewi P 80 Terlampaui
21 Rina Prabawati P 90 Terlampaui
22 Rizka Dwi Andriani P 76 Terlampaui
23 Rizqi Maharani P 82 Terlampaui
24 Sanma Elmajid P 94 Terlampaui
25 Sulthan Arif A L 68 Belum Tercapai
26 Titin Hary Saputri P 90 Terlampaui
27 Vendicka Adityanto I R L 74 Belum Tercapai
28 Zubaida Kusuma W P 70 Belum Tercapai
Rata - rata 81.21
READ MORE - NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII D
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Adhitya Ramadhan L 70 Belum Tercapai
2 Ahmad Zufar Fikri L 94 Terlampaui
3 Alief Surya Nugraha L 88 Terlampaui
4 ArvianCandra Kusuma L 80 Terlampaui
5 Atika Ayu Indriana P 82 Terlampaui
6 Bagus Hananto Wibowo L 68 Belum Tercapai
7 Dea Fatika N P 78 Terlampaui
8 Dizza Dhiya V P 82 Terlampaui
9 Elvira Cyntia Devi P 76 Terlampaui
10 Fajar Safitri P 80 Terlampaui
11 Fajrina Hanif Hanundhiya P 84 Terlampaui
12 Faridah Rifiati S P 92 Terlampaui
13 Firdian Latifah P 90 Terlampaui
14 Fitria Handayani P 76 Terlampaui
15 Gagas Kidung Alam L 90 Terlampaui
16 Heka Siwi Pratita P 80 Terlampaui
17 Isyana Hilda Andriani P 84 Terlampaui
18 Mohammad Yudi S. L 74 Belum Tercapai
19 Rengga Pratama L 82 Terlampaui
20 Rika Tri Arviana Dewi P 80 Terlampaui
21 Rina Prabawati P 90 Terlampaui
22 Rizka Dwi Andriani P 76 Terlampaui
23 Rizqi Maharani P 82 Terlampaui
24 Sanma Elmajid P 94 Terlampaui
25 Sulthan Arif A L 68 Belum Tercapai
26 Titin Hary Saputri P 90 Terlampaui
27 Vendicka Adityanto I R L 74 Belum Tercapai
28 Zubaida Kusuma W P 70 Belum Tercapai
Rata - rata 81.21
NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII C
NILAI MIDSEMESTER 2 KELAS VII C TAHUN 2010/2011
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Rifandi Angesti Basundara L 86 Terlampaui
2 Anita Argawati P 84 Terlampaui
3 Aulia Rizky Sutanto P 82 Terlampaui
4 Bayu Prasetyo L 90 Terlampaui
5 Bimantoro Sardoyo Putro L 72 Belum Tercapai
6 Brilliant Adittya F L 84 Terlampaui
7 Brilliant Mukti A M P 78 Terlampaui
8 Citra Monika Sainti C. P 86 Terlampaui
9 Daffa Dhiya Z L 76 Terlampaui
10 Destia Harry Sukma Nindita P 70 Belum Tercapai
11 Dinar Gita Permatasari P 90 Terlampaui
12 Fa'isah Erin Al Fiani P 80 Terlampaui
13 Fajar Nur Hidayat I.P L 80 Terlampaui
14 Hapsari Pratomoningsih P 64 Belum Tercapai
15 Irwan Yudhantoro L 74 Belum Tercapai
16 Jihandini Rhodia A P 88 Terlampaui
17 Mustika Ayu N P 72 Belum Tercapai
18 Noviana Kurnia Sari P 80 Terlampaui
19 Nunik Rahmawati Saputri P 76 Terlampaui
20 Putri Pertama Z.P P 84 Terlampaui
21 Rachma Noer Azizah P 82 Terlampaui
22 Regyta Dhea Effendi P 80 Terlampaui
23 Rindhi Ari Pratama L 78 Terlampaui
24 Rista Wahyu Berliana P 72 Belum Tercapai
25 Rizki Dwi Pragita N P 72 Belum Tercapai
26 Rizqi Wahyu M.P P 84 Terlampaui
27 Satria Fahrizal N L 90 Terlampaui
28 Wahyu Zulmi M L 56 Belum Tercapai
Rata - rata 79
READ MORE - NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII C
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Rifandi Angesti Basundara L 86 Terlampaui
2 Anita Argawati P 84 Terlampaui
3 Aulia Rizky Sutanto P 82 Terlampaui
4 Bayu Prasetyo L 90 Terlampaui
5 Bimantoro Sardoyo Putro L 72 Belum Tercapai
6 Brilliant Adittya F L 84 Terlampaui
7 Brilliant Mukti A M P 78 Terlampaui
8 Citra Monika Sainti C. P 86 Terlampaui
9 Daffa Dhiya Z L 76 Terlampaui
10 Destia Harry Sukma Nindita P 70 Belum Tercapai
11 Dinar Gita Permatasari P 90 Terlampaui
12 Fa'isah Erin Al Fiani P 80 Terlampaui
13 Fajar Nur Hidayat I.P L 80 Terlampaui
14 Hapsari Pratomoningsih P 64 Belum Tercapai
15 Irwan Yudhantoro L 74 Belum Tercapai
16 Jihandini Rhodia A P 88 Terlampaui
17 Mustika Ayu N P 72 Belum Tercapai
18 Noviana Kurnia Sari P 80 Terlampaui
19 Nunik Rahmawati Saputri P 76 Terlampaui
20 Putri Pertama Z.P P 84 Terlampaui
21 Rachma Noer Azizah P 82 Terlampaui
22 Regyta Dhea Effendi P 80 Terlampaui
23 Rindhi Ari Pratama L 78 Terlampaui
24 Rista Wahyu Berliana P 72 Belum Tercapai
25 Rizki Dwi Pragita N P 72 Belum Tercapai
26 Rizqi Wahyu M.P P 84 Terlampaui
27 Satria Fahrizal N L 90 Terlampaui
28 Wahyu Zulmi M L 56 Belum Tercapai
Rata - rata 79
NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII B
NILAI MIDSEMESTER 2 KELAS VII B TAHUN 2010/2011
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Amalia Kurniawati P 82 Terlampaui
2 Anggit Woro Subekti P 92 Terlampaui
3 Arizal Nur Faqih L 70 Belum Tercapai
4 Awlia Nindya Tsabitta P 78 Terlampaui
5 Aziz Ghani W.S L 90 Terlampaui
6 Bagas Satriotomo L 94 Terlampaui
7 Betari Wahyu Putri P 76 Terlampaui
8 Danang Prabowo L 90 Terlampaui
9 Diah Ardiasa Kusumadewi P 70 Belum Tercapai
10 Faisal Yoga Utama L 72 Belum Tercapai
11 Faizal Fahmi Aziz L 80 Terlampaui
12 Ibra Savetsila L 70 Belum Tercapai
13 Imam Hafid Maulana L 72 Belum Tercapai
14 Irsyad Mahardi H L 88 Terlampaui
15 Krisna Hakim L 76 Terlampaui
16 Kusnul Rahmah E,S P 78 Terlampaui
17 Marfuatun Nurul Khasanah P 78 Terlampaui
18 Mita Kurniawati P 76 Terlampaui
19 Nila Dzaqiyah M P 80 Terlampaui
20 Revian Putra Prehanawan L 76 Terlampaui
21 Riyana Kusuma Hapsari P 88 Terlampaui
22 Rosita Widyasuci P 76 Terlampaui
23 Safhira Ariyani B P 94 Terlampaui
24 Sophia Riska Wiraningrum P 76 Terlampaui
25 Widya Suryanningtyas P 86 Terlampaui
26 Zainal Arifin L 82 Terlampaui
Rata - rata 80.38
READ MORE - NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII B
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Amalia Kurniawati P 82 Terlampaui
2 Anggit Woro Subekti P 92 Terlampaui
3 Arizal Nur Faqih L 70 Belum Tercapai
4 Awlia Nindya Tsabitta P 78 Terlampaui
5 Aziz Ghani W.S L 90 Terlampaui
6 Bagas Satriotomo L 94 Terlampaui
7 Betari Wahyu Putri P 76 Terlampaui
8 Danang Prabowo L 90 Terlampaui
9 Diah Ardiasa Kusumadewi P 70 Belum Tercapai
10 Faisal Yoga Utama L 72 Belum Tercapai
11 Faizal Fahmi Aziz L 80 Terlampaui
12 Ibra Savetsila L 70 Belum Tercapai
13 Imam Hafid Maulana L 72 Belum Tercapai
14 Irsyad Mahardi H L 88 Terlampaui
15 Krisna Hakim L 76 Terlampaui
16 Kusnul Rahmah E,S P 78 Terlampaui
17 Marfuatun Nurul Khasanah P 78 Terlampaui
18 Mita Kurniawati P 76 Terlampaui
19 Nila Dzaqiyah M P 80 Terlampaui
20 Revian Putra Prehanawan L 76 Terlampaui
21 Riyana Kusuma Hapsari P 88 Terlampaui
22 Rosita Widyasuci P 76 Terlampaui
23 Safhira Ariyani B P 94 Terlampaui
24 Sophia Riska Wiraningrum P 76 Terlampaui
25 Widya Suryanningtyas P 86 Terlampaui
26 Zainal Arifin L 82 Terlampaui
Rata - rata 80.38
NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII A
NILAI MIDSEMESTER 2 KELAS VII A TAHUN 2010/2011
NO Nama NILAI KETERANGAN
1 Afifa Chandra Wibowo 86 Terlampaui
2 Amelia Sholikhah 82 Terlampaui
3 Arnita Febriana Puryatama P 82 Terlampaui
4 Dhevani Zuraida 86 Terlampaui
5 Ela Krisnanda Lara Prihati L 90 Terlampaui
6 Farica Nissa Nuraini 84 Terlampaui
7 Ferren Putri Sukmawati 82 Terlampaui
8 Fikri Jati Wibowo 80 Terlampaui
9 Ichwan Aris Susilo Hidayah L 84 Terlampaui
10 Ira Mustika Dewi 94 Terlampaui
11 Isnaeni Sendi Utami 84 Terlampaui
12 Karin Kurniawati 66 Belum Tercapai
13 Lindha Wulandari 78 Terlampaui
14 Lusiana Olivia 70 Belum Tercapai
15 Maulana Adam S 82 Terlampaui
16 Muh Azis Wahyu. W 82 Terlampaui
17 Muhammad Aditya J
18 Muhammad Fahmi T 76 Terlampaui
19 Muhammad Habib I .N. A 88 Terlampaui
20 Netty Fitria Rahmawati 90 Terlampaui
21 Okasha Irfan Izzudin 60 Belum Tercapai
22 Rama Aji Mukti. A 90 Terlampaui
23 Sabila Pambudi Lestari 70 Belum Tercapai
24 Salma Zonalia H 78 Terlampaui
25 Siti Dewi Uminingtyas 84 Terlampaui
26 Tendi Adi Nugroho 88 Terlampaui
Rata - rata 81.44
READ MORE - NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VII A
NO Nama NILAI KETERANGAN
1 Afifa Chandra Wibowo 86 Terlampaui
2 Amelia Sholikhah 82 Terlampaui
3 Arnita Febriana Puryatama P 82 Terlampaui
4 Dhevani Zuraida 86 Terlampaui
5 Ela Krisnanda Lara Prihati L 90 Terlampaui
6 Farica Nissa Nuraini 84 Terlampaui
7 Ferren Putri Sukmawati 82 Terlampaui
8 Fikri Jati Wibowo 80 Terlampaui
9 Ichwan Aris Susilo Hidayah L 84 Terlampaui
10 Ira Mustika Dewi 94 Terlampaui
11 Isnaeni Sendi Utami 84 Terlampaui
12 Karin Kurniawati 66 Belum Tercapai
13 Lindha Wulandari 78 Terlampaui
14 Lusiana Olivia 70 Belum Tercapai
15 Maulana Adam S 82 Terlampaui
16 Muh Azis Wahyu. W 82 Terlampaui
17 Muhammad Aditya J
18 Muhammad Fahmi T 76 Terlampaui
19 Muhammad Habib I .N. A 88 Terlampaui
20 Netty Fitria Rahmawati 90 Terlampaui
21 Okasha Irfan Izzudin 60 Belum Tercapai
22 Rama Aji Mukti. A 90 Terlampaui
23 Sabila Pambudi Lestari 70 Belum Tercapai
24 Salma Zonalia H 78 Terlampaui
25 Siti Dewi Uminingtyas 84 Terlampaui
26 Tendi Adi Nugroho 88 Terlampaui
Rata - rata 81.44
NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VIIA-E
NILAI MIDSEMESTER 2 KELAS VII E TAHUN 2010/2011
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Ainun Partiiwi S P 98 Terlampaui
2 Aisyah Nur Ayni P 84 Terlampaui
3 Anisa Darma Briliant P 86 Terlampaui
4 Arlinda Patmawati P 76 Terlampaui
5 Arswoto Ilham Ramadhan L 72 Belum Tercapai
6 Bangkit Jati Prabowo L 70 Belum Tercapai
7 Baskara Petarm L 80 Terlampaui
8 Brilliant Bagaskara L 86 Terlampaui
9 Desi Wulandari P 78 Terlampaui
10 Devintha Sutra N P 86 Terlampaui
11 Eko Nugroho Santoso L 82 Terlampaui
12 Endah Belanegar K P 94 Terlampaui
13 Enggar Cahyaningrum P 68 Belum Tercapai
14 Iffah Nur Amalia P 96 Terlampaui
15 Khansa Asbinsa T P 72 Belum Tercapai
16 Krisna Adi Dharma L 84 Terlampaui
17 Kurniawan Suhendra L 90 Terlampaui
18 Lu'lu'in Latifa Nisa P 80 Terlampaui
19 Lyvia Heri Rukmana P P 76 Terlampaui
20 Nabella Rizkya Devi P 84 Terlampaui
21 Nabila Setya Damayanti P 76 Terlampaui
22 Phiuli Pinkan Arethusa P 84 Terlampaui
23 Ray Muafa Zain L 74 Belum Tercapai
24 Taufiq Arif Ismail L 80 Terlampaui
25 Waris Yarisunal Firdaus L 96 Terlampaui
26 Yaza Aristananda P 88 Terlampaui
Rata - rata 82.31
READ MORE - NILAI MURNI MIDSEMESTER 2 KELAS VIIA-E
NO Nama Jenis Kel. NILAI KETERANGAN
1 Ainun Partiiwi S P 98 Terlampaui
2 Aisyah Nur Ayni P 84 Terlampaui
3 Anisa Darma Briliant P 86 Terlampaui
4 Arlinda Patmawati P 76 Terlampaui
5 Arswoto Ilham Ramadhan L 72 Belum Tercapai
6 Bangkit Jati Prabowo L 70 Belum Tercapai
7 Baskara Petarm L 80 Terlampaui
8 Brilliant Bagaskara L 86 Terlampaui
9 Desi Wulandari P 78 Terlampaui
10 Devintha Sutra N P 86 Terlampaui
11 Eko Nugroho Santoso L 82 Terlampaui
12 Endah Belanegar K P 94 Terlampaui
13 Enggar Cahyaningrum P 68 Belum Tercapai
14 Iffah Nur Amalia P 96 Terlampaui
15 Khansa Asbinsa T P 72 Belum Tercapai
16 Krisna Adi Dharma L 84 Terlampaui
17 Kurniawan Suhendra L 90 Terlampaui
18 Lu'lu'in Latifa Nisa P 80 Terlampaui
19 Lyvia Heri Rukmana P P 76 Terlampaui
20 Nabella Rizkya Devi P 84 Terlampaui
21 Nabila Setya Damayanti P 76 Terlampaui
22 Phiuli Pinkan Arethusa P 84 Terlampaui
23 Ray Muafa Zain L 74 Belum Tercapai
24 Taufiq Arif Ismail L 80 Terlampaui
25 Waris Yarisunal Firdaus L 96 Terlampaui
26 Yaza Aristananda P 88 Terlampaui
Rata - rata 82.31
Minggu, 12 Desember 2010
NILAI TES UAS I KLS VII B
NILAI UAS I KLS VII B MAPEL BHS INDONESIA
1)75,7 2)77,1 3)80 4)82,9 5)81,4 6)85,7 7)80 8)84,1 9)82,9 10)84,3
11) 80 12)78,6 13)77,1 14)84,3 15)82,9 16)80 17)75,7 18)87,1 19)80 20)84,3
20)84,3 21)87,1 22)82,9 23)85,7 24)84,3 25)77,1 26)81,4
NILAI UAS I KLS VII C MAPEL BHS INDONESIA
1)Rifandi 88,6 2) Anita 92,9 3)82,9 4)70 5)84,3 6)84,3 7)71,4 8) 82,9 9)80
10)74,3 11)87,1 12)85,7 13)85,7 14)72,9 15)78,6 16)84,3 17)81,4 18)78,6
19)82,9 20)78,6 21)84,3 22)75,7 23)88,6 24)70 25)84,3 26)84,3 27)81,4 28)84,3
NILAI UAS I KLS VII D MAPEL BHS INDONESIA
1)81,4 2)81,4 3)- 4)75,7 5)- 6)78,6 7)81,4 8)77,1 9)90 10)85,7 11)82,9
12)77,1 13)84,3 14)81,4 15)84,3 16)85,7 17)84,3 18)75,7 19)84,3 20)84,3
21)88,6 22)80 23)87,1 24)84,3 25)78,6 26)85,7 27)84,3 28)78,6
NILAI UAS I KLS VII E MAPEL BHS INDONESIA
1)85,7 2)85,7 3)87,1 4)81,4 5)82,9 6)84,3 7)84,3 8)78,6 9)81,4 10)80 11)84,3 12)90 13)81,4 14)84,3 15)80 16)80 17)78,6 18)87,1 19)81,4 20)87,1 21)85,7 22)85,7 23)75,7 24)81,4 25)82,9 26)85,7
READ MORE - NILAI TES UAS I KLS VII B
1)75,7 2)77,1 3)80 4)82,9 5)81,4 6)85,7 7)80 8)84,1 9)82,9 10)84,3
11) 80 12)78,6 13)77,1 14)84,3 15)82,9 16)80 17)75,7 18)87,1 19)80 20)84,3
20)84,3 21)87,1 22)82,9 23)85,7 24)84,3 25)77,1 26)81,4
NILAI UAS I KLS VII C MAPEL BHS INDONESIA
1)Rifandi 88,6 2) Anita 92,9 3)82,9 4)70 5)84,3 6)84,3 7)71,4 8) 82,9 9)80
10)74,3 11)87,1 12)85,7 13)85,7 14)72,9 15)78,6 16)84,3 17)81,4 18)78,6
19)82,9 20)78,6 21)84,3 22)75,7 23)88,6 24)70 25)84,3 26)84,3 27)81,4 28)84,3
NILAI UAS I KLS VII D MAPEL BHS INDONESIA
1)81,4 2)81,4 3)- 4)75,7 5)- 6)78,6 7)81,4 8)77,1 9)90 10)85,7 11)82,9
12)77,1 13)84,3 14)81,4 15)84,3 16)85,7 17)84,3 18)75,7 19)84,3 20)84,3
21)88,6 22)80 23)87,1 24)84,3 25)78,6 26)85,7 27)84,3 28)78,6
NILAI UAS I KLS VII E MAPEL BHS INDONESIA
1)85,7 2)85,7 3)87,1 4)81,4 5)82,9 6)84,3 7)84,3 8)78,6 9)81,4 10)80 11)84,3 12)90 13)81,4 14)84,3 15)80 16)80 17)78,6 18)87,1 19)81,4 20)87,1 21)85,7 22)85,7 23)75,7 24)81,4 25)82,9 26)85,7
PENGUMUMAN NILAI UAS I KELAS 7A--7E MAPEL BHS INDONESIA
Kelas VII A
No. 1) 80 2)75,7 3)82,9 4) 85,7 5)88,5 6)87,1 7)82,9 8)81,4 9)72,9 10)84,3
11)81,4 12)80 13)74,3 14)77,1 15)85,7 16)82,9 17)- 18)70 19) 75,7 20)82,9
21)77,1 22)75,7 23)78,6 24)88,6 25)84,3 26)84,3
READ MORE - PENGUMUMAN NILAI UAS I KELAS 7A--7E MAPEL BHS INDONESIA
No. 1) 80 2)75,7 3)82,9 4) 85,7 5)88,5 6)87,1 7)82,9 8)81,4 9)72,9 10)84,3
11)81,4 12)80 13)74,3 14)77,1 15)85,7 16)82,9 17)- 18)70 19) 75,7 20)82,9
21)77,1 22)75,7 23)78,6 24)88,6 25)84,3 26)84,3
Jumat, 03 Desember 2010
KARYA ILMIAH SARTONO
KETERGANTUNGAN BUKU CETAK
MENGURANGI PROFESIONALITAS GURU
Oleh: Sartono, S.Pd.
ABSTRAK
Pemerintah menetapkan berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bagi sekolah dasar dan menengah sejak tahun 2007. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanankan dimasing-masing satuan pendidikan. Pengembangan KTSP mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompertensi Kelulusan (SKL) yang ditetapkan standar nasional pendidikan dan berpedoman pada panduan penyusunana kurikulum yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Diberlakukannya KTSP seorang guru dituntut untuk mampu menunjukkan Profesionalitasnya, yaitu mampu menjabarkan Standar Kopetensi (SK) dan Kmpetensi Dasar (KD) kedalam materi pokok, kemudian menjabarkan lagi menjadi konsep-konsep pokok penyusunnya untuk memmperoleh materi esensial dan mengembangkannya menjadi silabus. Kegitan seperti ini tak akan dilakukan oleh seorang guru yang proses pembelajaran terhadap siswanya hanya menggantungkan buku-buku cetak di pasaran.
Kata Kunci : Profesionalitas, Buku cetak.
Sangat disayangkan keputusan suatu sekolah yang mengijinkan guru-gurunya mendistribusikan buku-buku materi pelajaran (buku cetak) kepada siswa-siswanya. Dengan alasan bahwa buku yang diedarkan sebagai pedoman mengajar, atau pedoman pokok, membuat siswa merasa takut dan khawatir sehingga termotivasi untuk membeli. Cara ini sebenarnya suatu scenario tersembunyi yang mengandung unsure pemaksaan terhadap siswa untuk membeli buku. Bagaimana tidak! Ketika guru mengatakan “Buka dan pelajari materi A halaman sekian sampai sekian” akan berdampak bagi siswa yang tidak memiliki buku terbebani mentalnya. Ini terjadi khususnya bagi siswa-siswi Sekiolah Dasar (SD).
Perlu disadari bahwa keadaan ekonomi orang tua setiap siswa tidak sama, ada yang lebih, ada yang cukup, ada yang kurang, bahkan ada yang sangat kurang. Jika harga satu buku cetak dirata-rata Rp 25.000,00 misalnya, maka berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk lima sampai sepuluh buku. Yang memprihatinkan lagi khususnya dikalanganSekolah Dasar masa berlaku buku itu hanya satu tahun (dua semester), sehingga ditahun ajaran berikiutnya para orng tua siswa dihadapkan pada masalah yang sama. Dengan alasan penyempurnaan, buku-buku itu dirubah caver dan halamannya sehingga terkesan beda disbanding buku sebelumnya. Sebenarnya jika ditelaah muatan buku baru dan lama tidak ada bedanya, namun dengan cara ini membuat buku-buku itu laris terjual di sekolah-sekolah. Tampak jelas bahwa langkah-langkah yang diambil oleh pihak penerbit dan pengedar hanya satu orentasinya, yaitu masalah ekonomi, apalagi kalau bukan karena uang!
Lalu bagaimanakah? Apakah guru dan siswa harus dilarang menggunakan buku cetak? Uraian berikut ini akan menganalisi kelemahan-kelemahan yang dimungkinkan terjadi pada guru dan siswa jika proses pembelajaran di sekolah hanya mengandalkan pda buku cetak. Kemudian juga apa yang harus dilakukan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya agar menjadi lebih professional.
BUKU CETAK TIDAK BISA MEWAKILI SETIAP SEKOLAH
Pada umumnya uraian pada buku cetak menjabarkan semua konsep pada materi-materi pokok tanpa adanya pemilihan konsep esensial. Hal ini menyebabkan pembahasan materi terlalu panjang lebar. Pernah penulis menelaah uraian materi pada buku IPA Biologi, PKn, Dan IPS antara buku kelas 5 SD dengan kelas 8 SMP hamper tidak ada bedanya. Pada hal perkembangan intelektual siswa SD sebatas pada pemikiran yang konkrit, karma daya otak terbatas pada obyek melalui pengamatan langsung (Jean Piaget). Jika yang terjadi demikian berapa persen target pembelajaran akan tercapai?
Seorang guru seharusnya melakukan penjabaran materi pokok menjadi konsep-konsp yang dianggap esensial dalam mencapai target yang telah ditentukan, karena guru lebih tahu karakteristik sekolah dan siswanya.
Seorang penulis buku untuk pelajaran tertentu tidak mungkin melakukan investigasi ke setiap sekolah, misalnya diambil sampel pun tidak akan bisa mewakili semua sekolah yang ada. Maka hamper dipastikan bahwa buku dibuat berdasarkan kontek penulisnya yang tidak akan bisa mewakili kontekkesehariansiswa. Belum lagi dihubungkan dengan sarana prasarana yang ada di sekolah, fasilitas yang dimiliki masing-masing sekolah tidak sama, yang tentunya tidak mungkin untuk mengikuti alur proses pembelajaran yang ada pada buku cetak.
PENGGUNAAN BUKU CETAK BERAGAM
Bisa diteliti di sekolah-sekolah, hamper tiap sekolah menggunakan buku cetak yang berbeda, ini tergantung transaksi antara guru dan penerbit, tentunya diambil yang paling menguntungkan. Masih ada baiknya jika karena pertimbangan materi buku, tetapi akan menjadi musibah jika pemakaian buku cetak karena pertimbangan keuntungan uang semata. Bisa dibayangkan , masing-masing sekolah memiliki pedoman buku cetak berbeda-beda, ini dalam satu lingkup kabupaten, belum meluas ketingkat propinsi, bahkan nasional. Jika hal seperti ini benar-benar terjadi hanya akan membawa kwalitas pendidikan kita semakin ketinggalan disbanding negara lain.
Penulis tujukan kepada rekan-rekan guru yang masih mengandalkan buku-buku cetak sebagai bahan pembelajaran, hendaknya kita sadaribahwa guru yang kompeten adalah guru yamg mau belajar sepanjang hayat (Haryati). Penggunaan buku cetak sebagai standar pembelajaran akan menumbuhkan tipe guru yang malas berfikir, suatu sifat yang sangat tidak pantas ada pada seorang guru.
KEHARUSAN GURU UNTUK MELAKUAKAN ANALISIS DAN MEMILIH KONSEP ESENSIAL
Dalam pelaksanaan pembelajaran, seorang guru tidak dibenarkan hanya berpedoman materi yang termuat dalam buku cetak, walaupun buku itu disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku. Buku cetak tidak bisa mewakili semua sekolah, isi dan uraiannya yang cenderung pnjang lebar tidak mungkin diberikan dalam waktu yang sangat terbatas.
Guru dituntut untuk bisa menunjukkan sifat profesionalitasnya, diantaranya ada kemauan untuk belajar sepanjang hayat, kreatif berfikir dalam rangka mebelajarkan siswa, dan mampu membelajarkan siswa berdasarkan filosofi konstrutivisme. Ketika berangkat ke sekolah guru harus berfikir “Bagaimana membelajarkan siswa” dan bukan berfikir “Bagaimana mengajar siswa”. Guru harus mampu menyusun bahan pembelajaran yang tepat untuk mencapai target yang diingikan. Untuk itu guru haruas melakukan analisi dan memilih konsep esensial.
Di dalam Standar kompetensi tiap mata pelajaran pada kurikulum 2004 terdapat kompetensi dasar dan indicator ketercapaian kompetensi dasar dan materi pokoknya. Kompetensi dasar, indicator ketercapaian kompetensi dan materi pokok ini merupakan acuan pengembangan bahan pembelajaran. Analisis konsep adalah langkah untuk menjabarkan materi pokok menjadi konsep-konsep penyusunnya, sementara pemilihan konsep esensial adalah proses pemilihan beberapa konsep utama untuk dikembangkan menjadi bahan pembelajaran dengan memperhatikan kompetensi yang akan dicapai dan indictor ketercapaian kompetensi.
Analisis konsep esnsial adalah langkah untuk menjabarkan materi pokok menjadi komponen-komponen generalisasi atau konsep esensial penyusunnya. Dari generalisasi dan konsep esensial ini dapat dikembangkan bahan pembelajaran yang efektif dan efisien. Langkah analisis konsep dapat ditunjukkan pada diagram di bawah ini. Terlihat bahwa sebuah materi pokok tersusun atas beberapa generalisasi. Sementara sebuah generalisasai menghubungkan dua atau lebih konsep. Konsep-konsep yang membentuk generalisasi ini sering kali masih memiliki peluang untuk dijabarkan beberapa konsep yang lain.
GAMBAR DIAGRAM
Dalam pengembangan bahan pembelajaran tidak semua konsep yang telah dijabarkan dalam analisis konsep esensial dijadikan bahan pembelajaran. Kita perlu memilih konsep-konsep esensial dari materi pokok yang dimaksud. Salah satu pertimbangannya adalah dengan melihat apakah konsep-konsep tersebut terdapat dalam indicator. Dengan demikian bahan pembelajaran diharapkan dapat mencapai kompetensi yang diinginkan.
APAKAH TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN BUKU CETAK?
Setelah konsep-konsep esensial dipilih, langkah berikutnya adalah pengembangan syllabus. Silabus ini yang nantinya dikembangkan menjadi bahan pembelajaran yang salah satu luarannya pengembangan scenario pembelajaran. Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengembangkan syllabus menjadi scenario pembelajaran adalah mengumpulkan bahan-bahan acuan, disinilah peranan buku cetak yakni sekedar digunakan sebagai acuan scenario pembelajaran. Acuan yang digunakan dalam menyusun scenario pembelajaran tidak dibatasi hanya pada buku cetak, tetapi juga bisa buku eksperimen, ensiklopedi, multimedia atau surat-surat kabar yang relevan.
Jadi sangat jelas bahwa status buku cetak bukanlah pedoman untuk pembelajaran, namun sekedar referensi bagi guru untuk menambah wawasan. Demikian juga untuk siswa bahwa buku cetak boleh dimiliki bahkan dianjurkan untuk membeli bagi yang ada kemampuan tanpa ada pakasaan dan ketentuan buku yang harus dibeli.
PENUTUP
Dengan melakukan analisis dan memilih konsep esensial membuat guru menjadi kreatif berfikir, penuh inovasi, dan memudahkan guru untuk menerapkan sistim pembelajaran dengan filosofi konstruktivisme. Guru akan selalu berfikir membuat bahan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang ada, karena guru yang lebih mengerti karakteristik sekolah dan siswanya, sehingga tidak terfikirkan lagi dalam proses pembelajaran hanya mengandalkan isi buku cetak yang ada.
Keberadaan buku cetak yang ada disikapinya sebagai bahan untuk memperkaya khasanah keilmuan baik bagi guru maupun siswa dan tidak akan menjadikannya sumber utama dalam proses pembelajaran. Hal demikian dapat mengurangi gejolak para orng tua siswa yang merasa selalu dibingungkan karena adanya keharusan membeli buku. Guru akan memberi kebebasan kepada siswa terhadp buku yang harus dibeli atau bahkan tidak membeli.
Semua guru harus menyadari bahwa jabatan guru adalah jabatan profesional yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Jabatan professional itu akan tetap terjaga jika seorang guru mampu melaksaanakan tuntutan-tutuntutan yang telah ditetapkan.
READ MORE - KARYA ILMIAH SARTONO
MENGURANGI PROFESIONALITAS GURU
Oleh: Sartono, S.Pd.
ABSTRAK
Pemerintah menetapkan berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bagi sekolah dasar dan menengah sejak tahun 2007. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanankan dimasing-masing satuan pendidikan. Pengembangan KTSP mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompertensi Kelulusan (SKL) yang ditetapkan standar nasional pendidikan dan berpedoman pada panduan penyusunana kurikulum yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Diberlakukannya KTSP seorang guru dituntut untuk mampu menunjukkan Profesionalitasnya, yaitu mampu menjabarkan Standar Kopetensi (SK) dan Kmpetensi Dasar (KD) kedalam materi pokok, kemudian menjabarkan lagi menjadi konsep-konsep pokok penyusunnya untuk memmperoleh materi esensial dan mengembangkannya menjadi silabus. Kegitan seperti ini tak akan dilakukan oleh seorang guru yang proses pembelajaran terhadap siswanya hanya menggantungkan buku-buku cetak di pasaran.
Kata Kunci : Profesionalitas, Buku cetak.
Sangat disayangkan keputusan suatu sekolah yang mengijinkan guru-gurunya mendistribusikan buku-buku materi pelajaran (buku cetak) kepada siswa-siswanya. Dengan alasan bahwa buku yang diedarkan sebagai pedoman mengajar, atau pedoman pokok, membuat siswa merasa takut dan khawatir sehingga termotivasi untuk membeli. Cara ini sebenarnya suatu scenario tersembunyi yang mengandung unsure pemaksaan terhadap siswa untuk membeli buku. Bagaimana tidak! Ketika guru mengatakan “Buka dan pelajari materi A halaman sekian sampai sekian” akan berdampak bagi siswa yang tidak memiliki buku terbebani mentalnya. Ini terjadi khususnya bagi siswa-siswi Sekiolah Dasar (SD).
Perlu disadari bahwa keadaan ekonomi orang tua setiap siswa tidak sama, ada yang lebih, ada yang cukup, ada yang kurang, bahkan ada yang sangat kurang. Jika harga satu buku cetak dirata-rata Rp 25.000,00 misalnya, maka berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk lima sampai sepuluh buku. Yang memprihatinkan lagi khususnya dikalanganSekolah Dasar masa berlaku buku itu hanya satu tahun (dua semester), sehingga ditahun ajaran berikiutnya para orng tua siswa dihadapkan pada masalah yang sama. Dengan alasan penyempurnaan, buku-buku itu dirubah caver dan halamannya sehingga terkesan beda disbanding buku sebelumnya. Sebenarnya jika ditelaah muatan buku baru dan lama tidak ada bedanya, namun dengan cara ini membuat buku-buku itu laris terjual di sekolah-sekolah. Tampak jelas bahwa langkah-langkah yang diambil oleh pihak penerbit dan pengedar hanya satu orentasinya, yaitu masalah ekonomi, apalagi kalau bukan karena uang!
Lalu bagaimanakah? Apakah guru dan siswa harus dilarang menggunakan buku cetak? Uraian berikut ini akan menganalisi kelemahan-kelemahan yang dimungkinkan terjadi pada guru dan siswa jika proses pembelajaran di sekolah hanya mengandalkan pda buku cetak. Kemudian juga apa yang harus dilakukan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya agar menjadi lebih professional.
BUKU CETAK TIDAK BISA MEWAKILI SETIAP SEKOLAH
Pada umumnya uraian pada buku cetak menjabarkan semua konsep pada materi-materi pokok tanpa adanya pemilihan konsep esensial. Hal ini menyebabkan pembahasan materi terlalu panjang lebar. Pernah penulis menelaah uraian materi pada buku IPA Biologi, PKn, Dan IPS antara buku kelas 5 SD dengan kelas 8 SMP hamper tidak ada bedanya. Pada hal perkembangan intelektual siswa SD sebatas pada pemikiran yang konkrit, karma daya otak terbatas pada obyek melalui pengamatan langsung (Jean Piaget). Jika yang terjadi demikian berapa persen target pembelajaran akan tercapai?
Seorang guru seharusnya melakukan penjabaran materi pokok menjadi konsep-konsp yang dianggap esensial dalam mencapai target yang telah ditentukan, karena guru lebih tahu karakteristik sekolah dan siswanya.
Seorang penulis buku untuk pelajaran tertentu tidak mungkin melakukan investigasi ke setiap sekolah, misalnya diambil sampel pun tidak akan bisa mewakili semua sekolah yang ada. Maka hamper dipastikan bahwa buku dibuat berdasarkan kontek penulisnya yang tidak akan bisa mewakili kontekkesehariansiswa. Belum lagi dihubungkan dengan sarana prasarana yang ada di sekolah, fasilitas yang dimiliki masing-masing sekolah tidak sama, yang tentunya tidak mungkin untuk mengikuti alur proses pembelajaran yang ada pada buku cetak.
PENGGUNAAN BUKU CETAK BERAGAM
Bisa diteliti di sekolah-sekolah, hamper tiap sekolah menggunakan buku cetak yang berbeda, ini tergantung transaksi antara guru dan penerbit, tentunya diambil yang paling menguntungkan. Masih ada baiknya jika karena pertimbangan materi buku, tetapi akan menjadi musibah jika pemakaian buku cetak karena pertimbangan keuntungan uang semata. Bisa dibayangkan , masing-masing sekolah memiliki pedoman buku cetak berbeda-beda, ini dalam satu lingkup kabupaten, belum meluas ketingkat propinsi, bahkan nasional. Jika hal seperti ini benar-benar terjadi hanya akan membawa kwalitas pendidikan kita semakin ketinggalan disbanding negara lain.
Penulis tujukan kepada rekan-rekan guru yang masih mengandalkan buku-buku cetak sebagai bahan pembelajaran, hendaknya kita sadaribahwa guru yang kompeten adalah guru yamg mau belajar sepanjang hayat (Haryati). Penggunaan buku cetak sebagai standar pembelajaran akan menumbuhkan tipe guru yang malas berfikir, suatu sifat yang sangat tidak pantas ada pada seorang guru.
KEHARUSAN GURU UNTUK MELAKUAKAN ANALISIS DAN MEMILIH KONSEP ESENSIAL
Dalam pelaksanaan pembelajaran, seorang guru tidak dibenarkan hanya berpedoman materi yang termuat dalam buku cetak, walaupun buku itu disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku. Buku cetak tidak bisa mewakili semua sekolah, isi dan uraiannya yang cenderung pnjang lebar tidak mungkin diberikan dalam waktu yang sangat terbatas.
Guru dituntut untuk bisa menunjukkan sifat profesionalitasnya, diantaranya ada kemauan untuk belajar sepanjang hayat, kreatif berfikir dalam rangka mebelajarkan siswa, dan mampu membelajarkan siswa berdasarkan filosofi konstrutivisme. Ketika berangkat ke sekolah guru harus berfikir “Bagaimana membelajarkan siswa” dan bukan berfikir “Bagaimana mengajar siswa”. Guru harus mampu menyusun bahan pembelajaran yang tepat untuk mencapai target yang diingikan. Untuk itu guru haruas melakukan analisi dan memilih konsep esensial.
Di dalam Standar kompetensi tiap mata pelajaran pada kurikulum 2004 terdapat kompetensi dasar dan indicator ketercapaian kompetensi dasar dan materi pokoknya. Kompetensi dasar, indicator ketercapaian kompetensi dan materi pokok ini merupakan acuan pengembangan bahan pembelajaran. Analisis konsep adalah langkah untuk menjabarkan materi pokok menjadi konsep-konsep penyusunnya, sementara pemilihan konsep esensial adalah proses pemilihan beberapa konsep utama untuk dikembangkan menjadi bahan pembelajaran dengan memperhatikan kompetensi yang akan dicapai dan indictor ketercapaian kompetensi.
Analisis konsep esnsial adalah langkah untuk menjabarkan materi pokok menjadi komponen-komponen generalisasi atau konsep esensial penyusunnya. Dari generalisasi dan konsep esensial ini dapat dikembangkan bahan pembelajaran yang efektif dan efisien. Langkah analisis konsep dapat ditunjukkan pada diagram di bawah ini. Terlihat bahwa sebuah materi pokok tersusun atas beberapa generalisasi. Sementara sebuah generalisasai menghubungkan dua atau lebih konsep. Konsep-konsep yang membentuk generalisasi ini sering kali masih memiliki peluang untuk dijabarkan beberapa konsep yang lain.
GAMBAR DIAGRAM
Dalam pengembangan bahan pembelajaran tidak semua konsep yang telah dijabarkan dalam analisis konsep esensial dijadikan bahan pembelajaran. Kita perlu memilih konsep-konsep esensial dari materi pokok yang dimaksud. Salah satu pertimbangannya adalah dengan melihat apakah konsep-konsep tersebut terdapat dalam indicator. Dengan demikian bahan pembelajaran diharapkan dapat mencapai kompetensi yang diinginkan.
APAKAH TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN BUKU CETAK?
Setelah konsep-konsep esensial dipilih, langkah berikutnya adalah pengembangan syllabus. Silabus ini yang nantinya dikembangkan menjadi bahan pembelajaran yang salah satu luarannya pengembangan scenario pembelajaran. Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengembangkan syllabus menjadi scenario pembelajaran adalah mengumpulkan bahan-bahan acuan, disinilah peranan buku cetak yakni sekedar digunakan sebagai acuan scenario pembelajaran. Acuan yang digunakan dalam menyusun scenario pembelajaran tidak dibatasi hanya pada buku cetak, tetapi juga bisa buku eksperimen, ensiklopedi, multimedia atau surat-surat kabar yang relevan.
Jadi sangat jelas bahwa status buku cetak bukanlah pedoman untuk pembelajaran, namun sekedar referensi bagi guru untuk menambah wawasan. Demikian juga untuk siswa bahwa buku cetak boleh dimiliki bahkan dianjurkan untuk membeli bagi yang ada kemampuan tanpa ada pakasaan dan ketentuan buku yang harus dibeli.
PENUTUP
Dengan melakukan analisis dan memilih konsep esensial membuat guru menjadi kreatif berfikir, penuh inovasi, dan memudahkan guru untuk menerapkan sistim pembelajaran dengan filosofi konstruktivisme. Guru akan selalu berfikir membuat bahan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang ada, karena guru yang lebih mengerti karakteristik sekolah dan siswanya, sehingga tidak terfikirkan lagi dalam proses pembelajaran hanya mengandalkan isi buku cetak yang ada.
Keberadaan buku cetak yang ada disikapinya sebagai bahan untuk memperkaya khasanah keilmuan baik bagi guru maupun siswa dan tidak akan menjadikannya sumber utama dalam proses pembelajaran. Hal demikian dapat mengurangi gejolak para orng tua siswa yang merasa selalu dibingungkan karena adanya keharusan membeli buku. Guru akan memberi kebebasan kepada siswa terhadp buku yang harus dibeli atau bahkan tidak membeli.
Semua guru harus menyadari bahwa jabatan guru adalah jabatan profesional yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Jabatan professional itu akan tetap terjaga jika seorang guru mampu melaksaanakan tuntutan-tutuntutan yang telah ditetapkan.
Rabu, 01 Desember 2010
Kisi-kisi UAS Kelas VII SMT 1 tahun 2010/2011
1. Pantun (ciri-ciri, contoh)
2. Menulis Surat pribadi (bagian-bagian surat)
3. Menemukan Pokok-pokok berita
4. Menentukan unsur intrinsik dongeng/cerpen
5. Menyimpulkan berita/wacana
6. Menulis pengumuman
7. Mencari relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang
8. Membaca cepat (menemukan gagasan utama)
9. Menemukan pesan moral dongeng
READ MORE - Kisi-kisi UAS Kelas VII SMT 1 tahun 2010/2011
2. Menulis Surat pribadi (bagian-bagian surat)
3. Menemukan Pokok-pokok berita
4. Menentukan unsur intrinsik dongeng/cerpen
5. Menyimpulkan berita/wacana
6. Menulis pengumuman
7. Mencari relevansi isi dongeng dengan situasi sekarang
8. Membaca cepat (menemukan gagasan utama)
9. Menemukan pesan moral dongeng
Selasa, 23 November 2010
PUISIKU
DI JOGJA
Di Jogja kuayunkan langkahku
Di Jogja kusandarkan harapanku
Di Jogja kupancangkan asaku
Di Jogja kan kugapai anganku
Di Jogja kutahan pilu
Di Jogja kudiserang rindu
Di Jogja aku termangu
Di Jogja kusabar menunggu
Di Jogja kucoba mengadu
Di Jogja kukan terus maju
Solo, 18 Oktober 2008
Kris Budiyono
DESAKU
Sawah membentang
Hijau daun padi bergoyang
Burung terbang melayang
Angin bernyanyi riang
Sinar mentari terpancar
Menembus dedaunan segar
Seakan untaian permata
Sejukkan mata
Petani ayunkan langkah
Menuju pematang sawah
Nyanyikan kidung indah
Membuat hati tergugah
Warna kuning padi nan cerah
Hilangkan rasa gundah
Hapuskan rasa resah
Sirnakan sukma lelah
Kuning padiku
Kau impianku
Tuk penuhi segala keinginanku
Tuk hidupi masa depanku
Kris Budiyono
SUATU HARI DI PADANG AROFAH
Waktu bedug berlalu sudah
Saat wukuh dimulai sudah
Berjuta tangan mulai tengadah
Berjuta doa terucap tanpa patah
Tak terasa air mata berlinang
Basahi wajah tenang
Air mata berhenti sebentar
Mengalir lagi dengan gencar
Tubuh ini telanjang
Hati ini telanjang
Hidup ini telanjang
Semua dihadapan-Mu telanjang
Kurobek pintu ampun-Mu
Kuketuk pintu surga-Mu
Kusunting bidadari-Mu
Kujarah keridoan-Mu
Ya Allah...........kekasihku
Kusadari diri ini berlumpur dosa
Hati ini penuh lumpur noda
Namun, kalbu ini penuh asa
Ya Allah.......sesembahanku
Izinkan aku
Mohon ampun pada-Mu
Rengkuhlah aku dalam surga-Mu
Solo, 15 Oktober 2008
Kris Budiyono
20 ALASAN MENGAPA HARUS MENCINTAIMU
Aku butuh matahari untuk penghangat tubuhku
Aku butuh rembulan untuk menemani malamku
Aku butuh gelap untuk menutupi rahasia kita berdua
Aku butuh embun untuk mengobati dahaga
Aku butuh waktu untuk menunda
Aku butuh jam untuk segera bergegas
Aku butuh angin untuk saling menyapa
Aku butuh udara untuk membuatku lega
Aku butuh tangismu untuk memelukmu mesra
Aku butuh senyummu untuk membuatku berharga
Aku butuh gunung untuk saling mendaki
Aku butuh lembah untuk saling menuruni
Aku butuh sawahmu untuk kutanami
Aku butuh ladngmu untuk kualiri
Aku butuh kursi untuk kududuki
Aku butuh dinding untuk kusandari
Aku butuh selimut untuk melindungi tubuh dari dingin malam
Aku butuh ranjang untuk tempat kumenyelam
Aku butuh hutan lebatmu untuk kurambahi
Aku butuh gua untuk kumasuki setiap hari
Untuk berlindung ketika kulelah
Dari kejaran kebutuhan
Gunung Kidul, 15 Oktober 2008
Wahyudi
IZINKAN
Izinkan ku tuk selalu pulang dalam mimpi
Walau kini kau tlah tiada tak kembali
Menemuimu dalam kegelapan
Menemanimu dalam lamunan
Izinkan ku selalu membelaimu dalam bayangan
Memelukmu dalam kehilangan
Mengandeng tangan-tangan keterasingan
Berjalan berdua menyusuri ketaksadaran
Izinkan aku untuk bicara
Mengungkap masa lalu yang tak sempat kuungkap
Membuka lembaran peristiwa yang sobek
Menulis kembali lembaran baru yang telah sirna
Gunung Kidul, Oktober 2008
Wahyudi
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)
READ MORE - PUISIKU
Di Jogja kuayunkan langkahku
Di Jogja kusandarkan harapanku
Di Jogja kupancangkan asaku
Di Jogja kan kugapai anganku
Di Jogja kutahan pilu
Di Jogja kudiserang rindu
Di Jogja aku termangu
Di Jogja kusabar menunggu
Di Jogja kucoba mengadu
Di Jogja kukan terus maju
Solo, 18 Oktober 2008
Kris Budiyono
DESAKU
Sawah membentang
Hijau daun padi bergoyang
Burung terbang melayang
Angin bernyanyi riang
Sinar mentari terpancar
Menembus dedaunan segar
Seakan untaian permata
Sejukkan mata
Petani ayunkan langkah
Menuju pematang sawah
Nyanyikan kidung indah
Membuat hati tergugah
Warna kuning padi nan cerah
Hilangkan rasa gundah
Hapuskan rasa resah
Sirnakan sukma lelah
Kuning padiku
Kau impianku
Tuk penuhi segala keinginanku
Tuk hidupi masa depanku
Kris Budiyono
SUATU HARI DI PADANG AROFAH
Waktu bedug berlalu sudah
Saat wukuh dimulai sudah
Berjuta tangan mulai tengadah
Berjuta doa terucap tanpa patah
Tak terasa air mata berlinang
Basahi wajah tenang
Air mata berhenti sebentar
Mengalir lagi dengan gencar
Tubuh ini telanjang
Hati ini telanjang
Hidup ini telanjang
Semua dihadapan-Mu telanjang
Kurobek pintu ampun-Mu
Kuketuk pintu surga-Mu
Kusunting bidadari-Mu
Kujarah keridoan-Mu
Ya Allah...........kekasihku
Kusadari diri ini berlumpur dosa
Hati ini penuh lumpur noda
Namun, kalbu ini penuh asa
Ya Allah.......sesembahanku
Izinkan aku
Mohon ampun pada-Mu
Rengkuhlah aku dalam surga-Mu
Solo, 15 Oktober 2008
Kris Budiyono
20 ALASAN MENGAPA HARUS MENCINTAIMU
Aku butuh matahari untuk penghangat tubuhku
Aku butuh rembulan untuk menemani malamku
Aku butuh gelap untuk menutupi rahasia kita berdua
Aku butuh embun untuk mengobati dahaga
Aku butuh waktu untuk menunda
Aku butuh jam untuk segera bergegas
Aku butuh angin untuk saling menyapa
Aku butuh udara untuk membuatku lega
Aku butuh tangismu untuk memelukmu mesra
Aku butuh senyummu untuk membuatku berharga
Aku butuh gunung untuk saling mendaki
Aku butuh lembah untuk saling menuruni
Aku butuh sawahmu untuk kutanami
Aku butuh ladngmu untuk kualiri
Aku butuh kursi untuk kududuki
Aku butuh dinding untuk kusandari
Aku butuh selimut untuk melindungi tubuh dari dingin malam
Aku butuh ranjang untuk tempat kumenyelam
Aku butuh hutan lebatmu untuk kurambahi
Aku butuh gua untuk kumasuki setiap hari
Untuk berlindung ketika kulelah
Dari kejaran kebutuhan
Gunung Kidul, 15 Oktober 2008
Wahyudi
IZINKAN
Izinkan ku tuk selalu pulang dalam mimpi
Walau kini kau tlah tiada tak kembali
Menemuimu dalam kegelapan
Menemanimu dalam lamunan
Izinkan ku selalu membelaimu dalam bayangan
Memelukmu dalam kehilangan
Mengandeng tangan-tangan keterasingan
Berjalan berdua menyusuri ketaksadaran
Izinkan aku untuk bicara
Mengungkap masa lalu yang tak sempat kuungkap
Membuka lembaran peristiwa yang sobek
Menulis kembali lembaran baru yang telah sirna
Gunung Kidul, Oktober 2008
Wahyudi
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu…
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)
Jumat, 15 Oktober 2010
HASIL MIDSEMESTER 1
Hasil Midsemester Kelas VII D
1). 82, 2).88, 3).78, 4). 80, 5).- 6). 86, 7). 74, 8). 76, 9). 86, 10). 74
11). 86, 12). 72, 13). 78, 14). 82, 15). 88, 16). 74, 17). 82, 18). 78, 19). 82,
20). 80, 21). 86, 22). 74, 23). 88, 24).80, 25). 84, 26). 82, 27). 78, 28). 78
READ MORE - HASIL MIDSEMESTER 1
1). 82, 2).88, 3).78, 4). 80, 5).- 6). 86, 7). 74, 8). 76, 9). 86, 10). 74
11). 86, 12). 72, 13). 78, 14). 82, 15). 88, 16). 74, 17). 82, 18). 78, 19). 82,
20). 80, 21). 86, 22). 74, 23). 88, 24).80, 25). 84, 26). 82, 27). 78, 28). 78
HASIL MIDSEMESTER 1
Hasil Midsemester Kelas VII E
1) 88 2). 86, 3).82, 4). 86), 5)76, 6).76 7).78, 8).84, 9). 80, 10).84
11).86, 12).82 13).74, 14).94, 15).72, 16).82, 17).86, 18).86, 19).80, 20).82
21).82, 22).82, 23).80, 24).68, 25)92, 26).84
READ MORE - HASIL MIDSEMESTER 1
1) 88 2). 86, 3).82, 4). 86), 5)76, 6).76 7).78, 8).84, 9). 80, 10).84
11).86, 12).82 13).74, 14).94, 15).72, 16).82, 17).86, 18).86, 19).80, 20).82
21).82, 22).82, 23).80, 24).68, 25)92, 26).84
HASIL MIDSEMESTER 1
Hasil Midsemester Kelas VII A
1). 86, 2) 84, 3). 82, 4).80, 5). 84, 6).86, 7). 82, 8). 94, 9). 76, 10). 90
11). 86, 12). 70, 13). 84, 14). 76, 15). 70, 16). 70, 17). - , 18).76, 19). 80
20). 78, 21). 78, 22). 84, 23). 76, 24). 72, 25). 80, 26). 80
READ MORE - HASIL MIDSEMESTER 1
1). 86, 2) 84, 3). 82, 4).80, 5). 84, 6).86, 7). 82, 8). 94, 9). 76, 10). 90
11). 86, 12). 70, 13). 84, 14). 76, 15). 70, 16). 70, 17). - , 18).76, 19). 80
20). 78, 21). 78, 22). 84, 23). 76, 24). 72, 25). 80, 26). 80
Kamis, 14 Oktober 2010
HASIL MIDSEMESTER KLS VII
Kelas VII B 1.82; 2.74; 3.78; 4.76; 5. 52; 6.82; 7. 86; 8.78; 9.84; 10. 82; 11. -;12.74; 13. 78; 14. 82; 15.82; 16. 72; 17. 84; 18. 82; 19. 84; 20.82; 21.76; 22.82; 23. 82; 24. 82; 25.72; 26.74
READ MORE - HASIL MIDSEMESTER KLS VII
makalah
UPAYA MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU
MELALUI PENGEMBANGAN
KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL
Oleh: Kris Budiyono
A. Pendahuluan
Profesi guru pada saat ini masih banyak dibicarakan orang, atau masih saja dipertanyakan orang, baik di kalangan para pakar pendidikan maupun di luar pakar pendidikan. Akhir-akhir ini banyak media cetak baik harian maupun mingguan memuat berita tentang guru. Ironisnya berita-berita tersebut sebagian besar cenderung melecehkan posisi guru. Namun, dari pihak guru sendiri nyaris tidak mampu membela diri.
Masyarakat/orang tua murid pun kadang-kadang memandang dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas, manakala putra-putri mereka tidak bisa menyelesaikan persoalan yang ia hadapi sendiri atau memiliki kemampuan tidak sesuai dengan keinginannya. Sementara dari pihak industri, memprotes para guru karena kualitas para lulusan dianggapnya kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaannya.
Sikap dan perilaku masyarakat tersebut bukan tanpa alasan, karena memang ada sebagian kecil oknum guru yang menyimpang dari kode etik guru. Anehnya lagi, kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh guru, akan mengundang reaksi yang begitu hebat di masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan adanya sikap demikian menunjukkan bahwa memang guru seyogyanya menjadi anutan bagi masyarakat di sekitarnya ( Moh. Uzer Usman, 2005:1).
Pengakuan masyarakat terhadap profesi guru dirasakan juga masih sangat rendah. Masayarakat lebih mengakui profesi dokter atau hakim yang dianggap lebih tinggi dibanding dengan profesi guru. Menurut Nana Sudjana (1988) dalam Moh. Uzer Usman (2005: 2), rendahnya pengakuan masyarakat terahadap profesi guru disebabkan oleh: 1). adanya pandangan sebagian masyarakat, bahwa siapa pun dapat menjadi guru asalkan berpengetahuan, 2). kekurangan guru di daerah terpencil, memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak memiliki keahlian untuk menjadi guru, dan 3). banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan profesinya.
Dari kenyataan terhadap rendahnya pangakuan masyarakat terhadap profesi guru, maka sudah saatnya kompetensi guru harus ditingkatkan. Pemerintah sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas guru saat ini telah dan sedang berusaha meningkatkan kompetensi guru. Di antara usaha yang dilakukan oleh pemerintah adalah diluncurkannya UU No. 14 tahun 2005 tentan Guru dan Dosen yang di antaranya mengatur kualifikasi akademik guru dan hak serta kewajiban guru dan dosen.
Di dalam UU No. 14 tahun 2005 dijelaskan bahwa guru profeisonal dituntut memiliki kompetensi pedagogik, profeisonal, kepribadian, dan sosial. Dari kompetensi tersebut, kompetensi yang paling dominan dalam pembentukan sikap dan moral peserta didik adalah kompetensi kepribadian dan sosial. Oleh karena itu dalam tulisan sederhana ini akan dibahas mengenai pentingnya kedua kompetensi tersebut dalam menunjang terwujudnya guru profeisonal. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial memiliki peranan yang sangat penting agar guru sukses membawa anak didiknya memiliki kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif. Kemampuan afektif yang dimaksud meliputi keterampilan intrapribadi dan antarpribadi.
Berkaitan dengan sikap moral dan perilaku guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yang berperan penting dalam pembentukan sikap siswa, guru dituntut memberikan keteladanan dalam mengimplementasikan pengetahuan yang dimilikinya dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Hal ini bertujuan agar pengetahuan yang diperoleh siswa bukan sebatas sebagai kumpulan teori yang hanya dihafalkan, tetapi lebih kepada bagaimana siswa mengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini senada dengan pendapat Zuchdi (2008:67) yang menyatakan bahwa peranan pendidikan afektif, supaya tujuan pendidikan yang sebenarnya dapat tercapai, yakni bahwa subjek didik mau dan mampu mengamalkan pengetahuan yang diperoleh dari dunia pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.
Usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru dalam rangka meningkatkan pengakuan profesi guru di mata masyarakat tidak akan membawa hasil maksimal tanpa adanya peran serta guru, sebab tanggung jawab dalam mengembangkan profesi pada dasarnya merupakan tuntutan kebutuhan pribadi guru, tanggung jawab mempertahankan dan mengembangkan profesinya tak dapat dilakukan oleh orang lain kecuali oleh dirinya sendiri. Dengan bermodalkan kewibawaan dan kemampuan mengembangkan diri, insya Alalh guru akan senantiasa dihormati serta mendapat kepercayaan dari masyarakat dan menjadi guru yang benar-benar profesional.
Pembahasan
1. Kompetensi Kepribadian
Dalam Standar Nasional Pendidikan (NSP), penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
Mulyasa (2007: 117), menyatakan bahwa pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pribadi guru juga sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik karena manusia pada dasarnya makhluk yang suka mencontoh, termasuk mencontoh pribadi gurunya dalam proses membentuk pribadinya.
Dari uraian di atas setip guru dituntut memiliki dan mengembangkan kemampuan kepribadiannya. Terkait dengan usaha guru dalam mengembangkan kemampuan pribadinya, guru harus menyadari keberadaannya dalam kehidupan. Sehubungan dengan pribadi, George Herbert Mead (dalam Zuchdi, 2008: 70), menyatakan bahwa diri manusia terdiri dari diri sebagai subjek dan diri sebagai objek. Keberadaan diri sebagai objek memungkinkan manusia mengamati dirinya sendiri atau memiliki kesadaran diri. Dengan adanya kesadaran diri, manusia dapat mengontrol tindakankannya dengan mengantisipasi konsekuensinya, dengan menyadari makna tindakannya (Zuchdi, 1986 dalam Zuchdi, 2008: 70).
Kesadaran akan harga diri merupakan salah satu komponen afektif. Komponen yang lain adalah minat, motivasi, sikap, dan nilai. Kesadaran harga diri secara mudah dapat diartikan sebagai sikap terhadap diri sendiri. Kesadaran diri dapat dikembangkan dengan cara mengembangkan kesadaran akan harga diri yang positif, yakni dengan menumbuhkan perasaan menguasai dan mampu mengatasi masalah perasaan bahwa diri kita bermakna dalam kehidupan.
Pengembangkan kemampuan menguasai diri sendiri sangat penting dalam membentuk kepribadian yang kokoh. Robert Stenberg (dalam Zuchdi, 2008: 71), menyebut kemampuan ini dengan intelegensi mengelola diri. Keterampilan ini melibatkan pengetahuan tentang cara mengelola diri dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat memaksimalkan produktivitas. Misalnya, pengetahuan tentang peranan guru dalam pembentukan pribadi siswa yang mantap.
Kompetensi kepribadian meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Kepribadian yang Mantap, Stabil, dan Dewasa.
Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, professional dan dapat dipertanggungjawabkan, guru harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa. Hal ini sangat penting karena banyak masalah pendidikan yang disebabkan oleh faktor-faktor kepribadian guru yang kurang mantap, kurang stabil, dan kurang dewasa. Kondisi kepribadian yang demikian sering membuat guru melakukan tindakan-tindakan yang tidak profesional, tidak terpuji, bahkan tindakan-tindakan yang tidak senonoh yang merusak citra dan martabat guru, misalnya adanya oknum guru yang menghamili peserta didik, terlibat dalam pencurian, penipuan, dan kasus-kasus lain yang tidak pantas dilakukan guru.
Ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian adalah rangsangan yang sering memancing emosinya. Kestabilan emosi amat diperlukan. Agar guru tidak mudah terpancing emosinya, latihan bentuk mental sangat diperlukan untuk melatih kesabaran.
2) Disiplin, Arif, dan Berwibawa
Guru harus memiliki pribadi yang disipilin, arif, dan berwibawa. Hal ini penting karena sering dijumpai adanya peserta didik yang berlaku bertentangan dengan nilai moral yang baik, misalnya merokok, minum-minuman keras, potongan rambut gondrong dan bercat, membolos dll. Kondisi tersebut menuntut guru untuk bersikap disiplin, arif, dan berwibawa dalam segala tindakan dan perilakunya, serta senantiasa mendisplinkan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan manakala guru memiliki pribadi yang disiplin, arif, dan berwibawa. Tanpa adanya hal tersebut mustahil guru dapat mengakkan kedisiplinan.
Dalam menanamkan disiplin, guru bertanggung jawab mengarahkan, dan berbuat baik, menjadi contoh, sabar dan penuh perngertian. Guru harus mampu mendisplinkan peserta didik dengan kasih sayang, terutama disiplin diri. Untuk itu, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut: a). membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya, b). membantu peserta didik meningkatkan standar perilakunya, dan c). menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin
3) Menjadi Teladan bagi Peserta didik
Guru merupakan teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang-orang di lingkungannya. Untuk itu, guru harus bertindak dan berperilaku yang baik menurut norma yang baik yang berlaku dalam masyarakat dan tidak melanggar norma hukum yang berlaku dalam negara. Hal ini tentu sangat sulit dilakukan, tetapi sebagai tokoh panutan guru harus berusaha bertindak dan berperilaku sesauai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dan negara.
4) Berakhlak Mulia
Guru harus memiliki akhlak mulia, karena ia adalah seorang penasihat bagi peserta didik. Guru memberi arahan pada peserta didik yang mangalami permasalahan-permasalahan. Makin efektif guru menangani setiap permasalahan, makin banyak peserta didik berpaling padanya untuk mendapatkan nasihat dan kepercayaan diri.
Agar guru dapat meyadari perannya sebagai panasihat, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental, serta memiliki akhlak mulia. Dengan demikian, ia dapat menjadi penasihat yang benar-benar dapat menyelasaikan permasalahan yang dihadapi peserta didiknya.
2. Kompetensi Sosial
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk:
a. berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar (Mulyasa, 2007: 173).
Guru adalah makhluk sosial, yang dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari kehidupan sosial masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kompetensi sosial yang memadai, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan. Mulyasa (2008: 176), menyebutkan ada sedikitnya tujuh kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif, yakni: 1). memiliki pengetahuan adat-istiadat baik sosial maupun agama, 2) memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi, 3) memiliki pengetahuan tentang inti demokrasi, 4) memiliki pengetahuan tentang estetika, 5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, 6). memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan, dan 7). setia terhadap harkat dan martabat manusia.
Sementara itu, berkaitan dengan pengembangan keterampilan akademis dan sosial, Zuchdi (2008: 49), menyatakan bahwa ada berbagai keterampilan yang diperlukan agar seseorang dapat mengamalkan nilai-nilai yang dianut sehingga berperilaku konstruktif dan bermoral dalam masyarakat. Keterampilan tersebut antara lain berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi secara jelas, menyimak, bertindak asertif, dan menemukan resolusi konflik, yang secara ringkas disebut keterampilan akademis dan sosial.
Berkait dengan keterampilan mengatasi masalah yang erat hubungannya dengan kompetensi sosial, Zuchdi (2008: 50), lebih lanjut menjelaskan bahwa masih banyak orang yang mengatasi masalah dengan cara kekuatan fisik, padahal cara demikian itu biasanya digunakan oleh binatang. Apabila kita menghendaki kehidupan berdasarkan nilai-nilai relegius dan prinsip-prinsip moral, kita perlu mengajarkan cara-cara mengatasi konflik secara konstruktif. Guru harus berusaha keras untuk meyakinkan anak-anak bahwa penyelesaian masalah secara destruktif yang banyak muncul dalam masyarakat Indonesia saat ini sangat tidak manusiawi dan bertentangan dengan norma-norma agama Islam yang harus dijunjung tinggi.
3. Pentingnya Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Sosial bagi Guru
Dari diuraikan yang telah disampaikan di depan mengenai kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, kedua kompetensi tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi guru dalam melaksanakan tugas utamanya sebagai pengajar dan pendidik bagi peserta didik. Dengan memiliki kedua kompetensi tersebut guru dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Dengan kompetensi sosial yang dimilikinya, guru dapat mengkomunikasikan segala yang dimilikinya demi kemajuan dan perkembangan peserta didik. Guru dapat membimbing dan mengarahkan segala tindakan dan perilaku peserta didik sesuai dengan nilai moral yang baik yang berlaku dalam masyarakat dan bertindak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Dengan demikian, peserta didik tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sempurna karena mendapat bimbingan dan arahan dari guru yang benar-benar memiliki kemampuan sosial yang baik.
Dengan kompetensi kepribadian yang dimiliki, guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menjadi panutan bagi peserta didiknya karena memiliki akhlak yang mulia. Dengan kedisiplinan yang dilakukannya dapat menjadi acuan bagi peserta didik untuk menjadi tertib dan disiplin sehingga siswa akan mematuhi segala aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, pembelajaran akan berjalan dengan baik sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya sehingga tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berbudi pekerti yang luhur, dan terampil dalam segala bidang, kompettif dalam persaingan global dapat tercapai dengan baik.
C. Penutup
Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dengan kedua kompetensi tersebut guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, profesional, dan bertanggung jawab. Upaya peningkatan kedua kompetensi tersebut telah dilakukan oleh pemerintah selaku penanggung jawab pelaksanaan pendidikan, di antaranya dengan diterbitkannya UU No. 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.
Diharapkan dengan usaha yang dilakukan oleh pemerintah ini, kompetensi guru sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan dapat meningkat secara berkelanjutan. Namun, upaya peningkatan kompetensi guru, khususnya kompetensi kepribadian dan sosial tidak akan dapat terealisasi dengan baik tanpa adanya kesadaran diri dari para guru untuk meningkatkannya secara pribadi. Jika apa yang dilakukan oleh pemerintah bersambut gayung dengan kemauan dan tekad yang kuat dari para guru, insya Alloh apa yang menjadi tujuan bersama, yakni meningkatnya kompetensi guru yang berujung pada meningkatnya kualitas peserta didik yang menjadi harapan mulia bersama dapat tercapai dengan baik. AMIIN.
Buku Sumber
Mulyasa, E. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Uzer Usman, Moh. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zuchdi, Darmiyati. 2008. Humanisasi Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara.
READ MORE - makalah
MELALUI PENGEMBANGAN
KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL
Oleh: Kris Budiyono
A. Pendahuluan
Profesi guru pada saat ini masih banyak dibicarakan orang, atau masih saja dipertanyakan orang, baik di kalangan para pakar pendidikan maupun di luar pakar pendidikan. Akhir-akhir ini banyak media cetak baik harian maupun mingguan memuat berita tentang guru. Ironisnya berita-berita tersebut sebagian besar cenderung melecehkan posisi guru. Namun, dari pihak guru sendiri nyaris tidak mampu membela diri.
Masyarakat/orang tua murid pun kadang-kadang memandang dan menuding guru tidak kompeten, tidak berkualitas, manakala putra-putri mereka tidak bisa menyelesaikan persoalan yang ia hadapi sendiri atau memiliki kemampuan tidak sesuai dengan keinginannya. Sementara dari pihak industri, memprotes para guru karena kualitas para lulusan dianggapnya kurang memuaskan bagi kepentingan perusahaannya.
Sikap dan perilaku masyarakat tersebut bukan tanpa alasan, karena memang ada sebagian kecil oknum guru yang menyimpang dari kode etik guru. Anehnya lagi, kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh guru, akan mengundang reaksi yang begitu hebat di masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena dengan adanya sikap demikian menunjukkan bahwa memang guru seyogyanya menjadi anutan bagi masyarakat di sekitarnya ( Moh. Uzer Usman, 2005:1).
Pengakuan masyarakat terhadap profesi guru dirasakan juga masih sangat rendah. Masayarakat lebih mengakui profesi dokter atau hakim yang dianggap lebih tinggi dibanding dengan profesi guru. Menurut Nana Sudjana (1988) dalam Moh. Uzer Usman (2005: 2), rendahnya pengakuan masyarakat terahadap profesi guru disebabkan oleh: 1). adanya pandangan sebagian masyarakat, bahwa siapa pun dapat menjadi guru asalkan berpengetahuan, 2). kekurangan guru di daerah terpencil, memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak memiliki keahlian untuk menjadi guru, dan 3). banyak guru yang belum menghargai profesinya, apalagi berusaha mengembangkan profesinya.
Dari kenyataan terhadap rendahnya pangakuan masyarakat terhadap profesi guru, maka sudah saatnya kompetensi guru harus ditingkatkan. Pemerintah sebagai lembaga yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas guru saat ini telah dan sedang berusaha meningkatkan kompetensi guru. Di antara usaha yang dilakukan oleh pemerintah adalah diluncurkannya UU No. 14 tahun 2005 tentan Guru dan Dosen yang di antaranya mengatur kualifikasi akademik guru dan hak serta kewajiban guru dan dosen.
Di dalam UU No. 14 tahun 2005 dijelaskan bahwa guru profeisonal dituntut memiliki kompetensi pedagogik, profeisonal, kepribadian, dan sosial. Dari kompetensi tersebut, kompetensi yang paling dominan dalam pembentukan sikap dan moral peserta didik adalah kompetensi kepribadian dan sosial. Oleh karena itu dalam tulisan sederhana ini akan dibahas mengenai pentingnya kedua kompetensi tersebut dalam menunjang terwujudnya guru profeisonal. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial memiliki peranan yang sangat penting agar guru sukses membawa anak didiknya memiliki kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif. Kemampuan afektif yang dimaksud meliputi keterampilan intrapribadi dan antarpribadi.
Berkaitan dengan sikap moral dan perilaku guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yang berperan penting dalam pembentukan sikap siswa, guru dituntut memberikan keteladanan dalam mengimplementasikan pengetahuan yang dimilikinya dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Hal ini bertujuan agar pengetahuan yang diperoleh siswa bukan sebatas sebagai kumpulan teori yang hanya dihafalkan, tetapi lebih kepada bagaimana siswa mengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini senada dengan pendapat Zuchdi (2008:67) yang menyatakan bahwa peranan pendidikan afektif, supaya tujuan pendidikan yang sebenarnya dapat tercapai, yakni bahwa subjek didik mau dan mampu mengamalkan pengetahuan yang diperoleh dari dunia pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.
Usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru dalam rangka meningkatkan pengakuan profesi guru di mata masyarakat tidak akan membawa hasil maksimal tanpa adanya peran serta guru, sebab tanggung jawab dalam mengembangkan profesi pada dasarnya merupakan tuntutan kebutuhan pribadi guru, tanggung jawab mempertahankan dan mengembangkan profesinya tak dapat dilakukan oleh orang lain kecuali oleh dirinya sendiri. Dengan bermodalkan kewibawaan dan kemampuan mengembangkan diri, insya Alalh guru akan senantiasa dihormati serta mendapat kepercayaan dari masyarakat dan menjadi guru yang benar-benar profesional.
Pembahasan
1. Kompetensi Kepribadian
Dalam Standar Nasional Pendidikan (NSP), penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
Mulyasa (2007: 117), menyatakan bahwa pribadi guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pribadi guru juga sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik karena manusia pada dasarnya makhluk yang suka mencontoh, termasuk mencontoh pribadi gurunya dalam proses membentuk pribadinya.
Dari uraian di atas setip guru dituntut memiliki dan mengembangkan kemampuan kepribadiannya. Terkait dengan usaha guru dalam mengembangkan kemampuan pribadinya, guru harus menyadari keberadaannya dalam kehidupan. Sehubungan dengan pribadi, George Herbert Mead (dalam Zuchdi, 2008: 70), menyatakan bahwa diri manusia terdiri dari diri sebagai subjek dan diri sebagai objek. Keberadaan diri sebagai objek memungkinkan manusia mengamati dirinya sendiri atau memiliki kesadaran diri. Dengan adanya kesadaran diri, manusia dapat mengontrol tindakankannya dengan mengantisipasi konsekuensinya, dengan menyadari makna tindakannya (Zuchdi, 1986 dalam Zuchdi, 2008: 70).
Kesadaran akan harga diri merupakan salah satu komponen afektif. Komponen yang lain adalah minat, motivasi, sikap, dan nilai. Kesadaran harga diri secara mudah dapat diartikan sebagai sikap terhadap diri sendiri. Kesadaran diri dapat dikembangkan dengan cara mengembangkan kesadaran akan harga diri yang positif, yakni dengan menumbuhkan perasaan menguasai dan mampu mengatasi masalah perasaan bahwa diri kita bermakna dalam kehidupan.
Pengembangkan kemampuan menguasai diri sendiri sangat penting dalam membentuk kepribadian yang kokoh. Robert Stenberg (dalam Zuchdi, 2008: 71), menyebut kemampuan ini dengan intelegensi mengelola diri. Keterampilan ini melibatkan pengetahuan tentang cara mengelola diri dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat memaksimalkan produktivitas. Misalnya, pengetahuan tentang peranan guru dalam pembentukan pribadi siswa yang mantap.
Kompetensi kepribadian meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Kepribadian yang Mantap, Stabil, dan Dewasa.
Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, professional dan dapat dipertanggungjawabkan, guru harus memiliki kepribadian yang mantap, stabil, dan dewasa. Hal ini sangat penting karena banyak masalah pendidikan yang disebabkan oleh faktor-faktor kepribadian guru yang kurang mantap, kurang stabil, dan kurang dewasa. Kondisi kepribadian yang demikian sering membuat guru melakukan tindakan-tindakan yang tidak profesional, tidak terpuji, bahkan tindakan-tindakan yang tidak senonoh yang merusak citra dan martabat guru, misalnya adanya oknum guru yang menghamili peserta didik, terlibat dalam pencurian, penipuan, dan kasus-kasus lain yang tidak pantas dilakukan guru.
Ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian adalah rangsangan yang sering memancing emosinya. Kestabilan emosi amat diperlukan. Agar guru tidak mudah terpancing emosinya, latihan bentuk mental sangat diperlukan untuk melatih kesabaran.
2) Disiplin, Arif, dan Berwibawa
Guru harus memiliki pribadi yang disipilin, arif, dan berwibawa. Hal ini penting karena sering dijumpai adanya peserta didik yang berlaku bertentangan dengan nilai moral yang baik, misalnya merokok, minum-minuman keras, potongan rambut gondrong dan bercat, membolos dll. Kondisi tersebut menuntut guru untuk bersikap disiplin, arif, dan berwibawa dalam segala tindakan dan perilakunya, serta senantiasa mendisplinkan peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan manakala guru memiliki pribadi yang disiplin, arif, dan berwibawa. Tanpa adanya hal tersebut mustahil guru dapat mengakkan kedisiplinan.
Dalam menanamkan disiplin, guru bertanggung jawab mengarahkan, dan berbuat baik, menjadi contoh, sabar dan penuh perngertian. Guru harus mampu mendisplinkan peserta didik dengan kasih sayang, terutama disiplin diri. Untuk itu, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut: a). membantu peserta didik mengembangkan pola perilaku untuk dirinya, b). membantu peserta didik meningkatkan standar perilakunya, dan c). menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat untuk menegakkan disiplin
3) Menjadi Teladan bagi Peserta didik
Guru merupakan teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang-orang di lingkungannya. Untuk itu, guru harus bertindak dan berperilaku yang baik menurut norma yang baik yang berlaku dalam masyarakat dan tidak melanggar norma hukum yang berlaku dalam negara. Hal ini tentu sangat sulit dilakukan, tetapi sebagai tokoh panutan guru harus berusaha bertindak dan berperilaku sesauai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat dan negara.
4) Berakhlak Mulia
Guru harus memiliki akhlak mulia, karena ia adalah seorang penasihat bagi peserta didik. Guru memberi arahan pada peserta didik yang mangalami permasalahan-permasalahan. Makin efektif guru menangani setiap permasalahan, makin banyak peserta didik berpaling padanya untuk mendapatkan nasihat dan kepercayaan diri.
Agar guru dapat meyadari perannya sebagai panasihat, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental, serta memiliki akhlak mulia. Dengan demikian, ia dapat menjadi penasihat yang benar-benar dapat menyelasaikan permasalahan yang dihadapi peserta didiknya.
2. Kompetensi Sosial
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Hal tersebut diuraikan lebih lanjut dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Guru, bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, yang sekurang-kurangnya memiliki kompetensi untuk:
a. berkomunikasi secara lisan, tulisan, dan isyarat
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar (Mulyasa, 2007: 173).
Guru adalah makhluk sosial, yang dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari kehidupan sosial masyarakat dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru dituntut memiliki kompetensi sosial yang memadai, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan. Mulyasa (2008: 176), menyebutkan ada sedikitnya tujuh kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar dapat berkomunikasi dan bergaul secara efektif, yakni: 1). memiliki pengetahuan adat-istiadat baik sosial maupun agama, 2) memiliki pengetahuan tentang budaya dan tradisi, 3) memiliki pengetahuan tentang inti demokrasi, 4) memiliki pengetahuan tentang estetika, 5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial, 6). memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan, dan 7). setia terhadap harkat dan martabat manusia.
Sementara itu, berkaitan dengan pengembangan keterampilan akademis dan sosial, Zuchdi (2008: 49), menyatakan bahwa ada berbagai keterampilan yang diperlukan agar seseorang dapat mengamalkan nilai-nilai yang dianut sehingga berperilaku konstruktif dan bermoral dalam masyarakat. Keterampilan tersebut antara lain berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi secara jelas, menyimak, bertindak asertif, dan menemukan resolusi konflik, yang secara ringkas disebut keterampilan akademis dan sosial.
Berkait dengan keterampilan mengatasi masalah yang erat hubungannya dengan kompetensi sosial, Zuchdi (2008: 50), lebih lanjut menjelaskan bahwa masih banyak orang yang mengatasi masalah dengan cara kekuatan fisik, padahal cara demikian itu biasanya digunakan oleh binatang. Apabila kita menghendaki kehidupan berdasarkan nilai-nilai relegius dan prinsip-prinsip moral, kita perlu mengajarkan cara-cara mengatasi konflik secara konstruktif. Guru harus berusaha keras untuk meyakinkan anak-anak bahwa penyelesaian masalah secara destruktif yang banyak muncul dalam masyarakat Indonesia saat ini sangat tidak manusiawi dan bertentangan dengan norma-norma agama Islam yang harus dijunjung tinggi.
3. Pentingnya Kompetensi Kepribadian dan Kompetensi Sosial bagi Guru
Dari diuraikan yang telah disampaikan di depan mengenai kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, kedua kompetensi tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi guru dalam melaksanakan tugas utamanya sebagai pengajar dan pendidik bagi peserta didik. Dengan memiliki kedua kompetensi tersebut guru dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Dengan kompetensi sosial yang dimilikinya, guru dapat mengkomunikasikan segala yang dimilikinya demi kemajuan dan perkembangan peserta didik. Guru dapat membimbing dan mengarahkan segala tindakan dan perilaku peserta didik sesuai dengan nilai moral yang baik yang berlaku dalam masyarakat dan bertindak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Dengan demikian, peserta didik tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang sempurna karena mendapat bimbingan dan arahan dari guru yang benar-benar memiliki kemampuan sosial yang baik.
Dengan kompetensi kepribadian yang dimiliki, guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menjadi panutan bagi peserta didiknya karena memiliki akhlak yang mulia. Dengan kedisiplinan yang dilakukannya dapat menjadi acuan bagi peserta didik untuk menjadi tertib dan disiplin sehingga siswa akan mematuhi segala aturan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, pembelajaran akan berjalan dengan baik sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya sehingga tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berbudi pekerti yang luhur, dan terampil dalam segala bidang, kompettif dalam persaingan global dapat tercapai dengan baik.
C. Penutup
Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pendidikan di Indonesia. Dengan kedua kompetensi tersebut guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, profesional, dan bertanggung jawab. Upaya peningkatan kedua kompetensi tersebut telah dilakukan oleh pemerintah selaku penanggung jawab pelaksanaan pendidikan, di antaranya dengan diterbitkannya UU No. 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.
Diharapkan dengan usaha yang dilakukan oleh pemerintah ini, kompetensi guru sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan dapat meningkat secara berkelanjutan. Namun, upaya peningkatan kompetensi guru, khususnya kompetensi kepribadian dan sosial tidak akan dapat terealisasi dengan baik tanpa adanya kesadaran diri dari para guru untuk meningkatkannya secara pribadi. Jika apa yang dilakukan oleh pemerintah bersambut gayung dengan kemauan dan tekad yang kuat dari para guru, insya Alloh apa yang menjadi tujuan bersama, yakni meningkatnya kompetensi guru yang berujung pada meningkatnya kualitas peserta didik yang menjadi harapan mulia bersama dapat tercapai dengan baik. AMIIN.
Buku Sumber
Mulyasa, E. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Uzer Usman, Moh. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zuchdi, Darmiyati. 2008. Humanisasi Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Langganan:
Postingan (Atom)